Kamis, 22 Desember 2011

Kasihmu Yang Tulus


Truuut…tutututut….tututut….

Pagi hari suara burung-burung mulai berkicauan dan terdengar sudah di telinga Diaz yang sedang merapikan bajunya karena untuk bersiap-siap pergi ke Malang. Dia merapikan buku-bukunya semasa SMA yang mempunyai kenangan suka-cita disana. Debu-debu pun saling bertegur sapa di ruangan yang sudah rapi itu. Kaca jendela pun tersenyum indah terlihat oleh mata Diaz yang nampak sedih meninggalkan kamar kesayangannya itu. Di meja belajarnya masih dia letakkan foto yang sangat indah, foto ibu kesayangannya.
Air mata pun mengalir di pipi Diaz karena teringat dengan perhatian ibunya, senyuman ibunya. Ibunya yang bernama Firda, dia sekarang bekerja di Abu Dhabi sebagai marketing dalam sebuah perusahaan herbal ternama. Ini dilakukannya untuk menghidupi Diaz dan Mirna yang akan lulus kuliah di salah satu Universitas Depok pada Fakultas Ekonomi Syariah. Ibu Firda memang sangat perhatian dengan Diaz, akan tetapi Diaz tidak terlalu menanggapi perhatian Ibu Firda selama ini. Sewaktu Diaz sakit dan Mirna pergi keluar kota karena ada tugas skripsi dalam kuliahnya. Ibu Firda merelakan tidak bekerja dan pulang demi merawat anak kesayangannya. Mulai Diaz mau makan, digantikan pakaiannya oleh Ibu Firda dan kadang-kadang sampai tertidur demi menemani Diaz yang sedang sakit.
Diaz merasakan biasa saja memilki orangtua seperti Ibu Firda, padahal teman-temannya yang lain banyak yang iri kepada Diaz. Mereka menyayangkan sifat Diaz yang memperlakukan ibunya sendiri seperti bukan orangtuanya. Bahkan ketika teman-temannya SMAnya datang, dia tidak memperkenalkan ibunya kepada teman-temannya, bahkan dia menyuruh ibunya layaknya pembantu.
Setelah hampir mau masuk kuliah di Malang jurusan Teknologi Pertanian pada Universitas yang sama dengan Kak Mirna, Diaz mempunyai teman yang lumayan banyak. Diaz mempunyai teman akrab yaitu Fathi dan Azza. Merekalah yang selalu menasehati Diaz untuk menghormati ibunya sendiri.
“Diaz, Diaz… Dek kamu masih dikamar… ayo makan dulu ! “ kata Kakak Mirna.
“Iya Kak, bentar lagi aku akan makan”, kata Diaz.
Diaz pun keluar dari kamarnya dan melihat kamar ibunya yang penuh dengan warna-warni, rapi dan wangi. Tiba-tiba Diaz  teringat senyuman ibunya, perhatiannya yang tulus dan tak pernah pudar kepadanya. Air mata Diaz selalu mengalir mengingat semua itu. Kemudian, dia melihat sebuah buku yang bertuliskan “Hidupku”.
Diaz perlahan-lahan membaca lembaran-lembaran yang sedikit berdebu itu, ternyata buku itu adalah diare ibunya, Ibu Firda. Isi dari buku ibunya lebih banyak menceritakan kelakuan Diaz yang selalu menganggap dirinya salah atau tidak sesuai dengan kehendak Diaz.
“Diaz…ayo cepat makan !”  kata Kakak Mirna sedikit berteriak. Diaz terkejut, segera menghapuskan airmatanya dan menuju meja makan.
“Diaz ko lama baru mau makan ? Tenang kamu di Malang bakalan ada yang jagain kamu ko”, kata Kak Mirna mencoba menenangkan hati Diaz yang sedih tersebut.
“Iya Kak, tenang aja Kak… O ya Kak, Kakak punya no. Hp Ibu ?” Diaz bertanya kepada kakaknya.
“Ada de, mank kenapa… ? ”kakak bertanya ke Diaz.
“Saya kangen aja kak ma ibu “, Diaz menjelaskan.
Makan pun sudah selesai, Kakak pun langsung mencarikan no. Hp Ibu. Kakak masih merasa aneh dengan Diaz, akhir-akhir ini selalu yang ditanyakan masalah Ibu.
“Diaz sekarang aneh, biasanya kan kalau sesudah lulus sma… Pasti mereka merindukan suasana SMA, pengen ngumpul-ngumpul dan lain-lain. Kenapa Diaz ga ya ?” Kakak Diaz ngomong sendiri setelah memberikan no. Hp Ibu kepada Diaz.
Diaz langsung pergi ke ruang tengah dan duduk di sofa dengan santainya. Dilihatnya akuarium yang ada 2 ekor ikan, mereka sangat akrab seperti anak dan ibu. Sehingga ini yang membuat Diaz bertekad akan selalu menyayangi Ibunya. Diaz melirik hpnya dan menelpon Ibu.
“Pokoknya aku harus minta maaf dan mengatakan sayang kepadanya” kata Diaz berbicara sendiri sebelum diangkat telponnya.
“Assalamu alaikumkum…Iya hallo…ada apa ya ?” suara Ibu Firda terdengar jelas
“Wa alaikum salam Bu…”sapa Diaz
“Emm…Diaz, gimana kabarnya ?”suara Ibu Firda sangat gembira.
“Baik Ibuku, Ibu maafin Diaz ya selama ini…” Diaz memohon.
“Iya, sama-sama anakku sayang..” suara Bu Firda begitu lembut terdengar
“I love you my mother”,Diaz sangat bahagia setelah mengetahui ibunya tidak marah.
“Too… O iya, anakku sekarang mau lanjutin kemana kuliah ?” Firda mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan lanjutin ke Malang, Ibu kapan pulang ?” Tanya Diaz sambil minum air teh hangat.
“Ibu lebaran saja pulangnya karena disini Ibu ada kerja tambahan di luar kantor dan Ibu menyempatkan S3 juga Nak...” Firda menjelaskan.
“Yah, lama banget  Ibu baru datang ...” suara Diaz agak sedih.
“Ibu usahakan secepatnya datang anakku... Kamu kapan ke Malang ?” Ibu Firda mencoba menghibur Diaz.
“Aku ke Malang hari ini Bu, ni sekarang mau berangkat. Makanya Ibu jangan lama-lama disana…aku kangen dengan Ibu”, Diaz membujuk Bu Firda untuk cepat pulang.
“Iya, InsyaAllah Ibu usahakan secepatnya pulang. Trus anakku kapan ke rumah lagi ?” Bu Firda bertanya kepada anaknya.
“Aku ga pulang Bu, aku tuk sementara bersama nenek di Malang”,kata Diaz agak berat rasanya meninggalkan rumahnya.
“Ya udah nanti, kalau Ibu pulang. Ibu akan ngajak Mirna untuk menjengok kamu di Malang sekalian merayakan hari raya disana”, Bu Firda meyakinkan Diaz.
Setelah lama berbicara di hp, kakak memanggil Diaz dan menyuruh bersiap-siap pergi ke Malang. Diaz pun minta doa ke Ibunya. Diaz langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tas birunya tersebut dan pergi bersama pamannya menuju rumah nenek yang ada di Malang.
Nenek pun menyambut mereka dengan ramah tamah. Pamannya dan neneknya saling ngobrol di teras. Sedangkan Diaz jalan-jalan mengelilingi rumah neneknya. Rumah neneknya persis sama dengan rumahnya, ada akuarium, alat music, taman kecil dan lain-lain. Sehingga inilah yang membuat Diaz mau tinggal bersama neneknya.
Sudah 3 minggu Diaz bersama neneknya, Diaz sudah menjalankan puasa selama 3 minggu pula. Diaz selalu ke masjid untuk melakukan shalat tarawih bersama neneknya, tetapi biasanya dia didatangi oleh teman-temannya sehingga tak jarang Diaz lebih sering berangkat bersama mereka. Kadang-kadang, Diaz ikut bersama temannya untuk membangunkan orang-orang untuk bersahur. Diaz selalu bahagia dan senang di bulan ramadhan kali ini. Sebelumnya dia tidak pernah ikut-ikutan seperti itu.
Biasanya dia kalau di rumah nonton tv dan makan lagi. Ketika mengingat semua itu, Diaz pun tertawa dan berbicara sendiri.
“Betapa malasnya aku dulu, sekarang aku merasa ada yang lebih sempurna puasaku kali ini”, Diaz sambil masuk ke rumah nenek.
Neneknya mengajak sahur bersama, masakan neneknya sangat enak. Masakan ikan yang gurih ditambah sayur yang segar dan makanan yang lainnya.
“Makan yang banyak Diaz, biar kamu kuat besok puasanya”, kata nenek dengan terenyum.
“Iya nenekku… Nenek biasanya sendirian ya kalau bulan Ramadhan ?” Diaz bertanya dan berhenti mengunyah makanan.
“Iya, nenek sendirian disini. Nenek sekarang sangat senang dengan bulan puasa kali ini ada yang menemani.” Nenek tersenyum lagi.
“Nenek, ingat sama Ibu ?” Tanya Diaz setelah minum air  putih.
“Iya ingat nene. Dia masih kuliah dan kerjakan di Mekkah ? Dia selalu menelpon nenek setiap bulan hanya untuk mengetahui kabar nenek bagaimana sekarang. Kamu beruntung punya Ibu seperti dia”, kata nenek dengan bangga punya anak seperti Firda, Ibunya Diaz.
“Iya, alhamdulillah nek”, kata Diaz dengan lembut.
“Gimana menurut kamu selama ini tinggal bersama nenek ?” nenek bertanya balik kepada Diaz.
“Tinggal disini mengasyikkan nek, aku punya banyak temen disini nek. Selain itu aku juga ga terlalu jauh menuju kampus.” Diaz sangat senang.
“Tapi sekarang … aku sangat kangen dengan Ibu”, kata Diaz dengan sedihnya.
“Ya udah nanti kita telpon Ibu, gimana ?”, kata nenek ngajak Diaz.
“Ga usah nek, kemarin katanya… mungkin pulangnya waktu lebaran. Jadi, masih lama dia datang kesini”, kata Diaz.
Diaz dan nenek membereskan meja makan dan bersiap-siap pergi ke mesjid yang ada di seberang tersebut. Dalam shalatnya Diaz berdoa agar dipertemukan dengan Ibunya tersebut.
Saat menjelang siang Diaz berinisiatif pergi ke perpustakaan kampus. Disana dia melihat foto Ibu Firda terpampang di Mading, setelah dilihat di brosur itu tercantum nama kampus Ibu yang sedang menggelar pelombaan internasional dan Ibu Firda adalah pemenang tahun yang lalu di kompetisi tersebut.
“Ibu memang hebat, aku sayang Ibu”, kata Diaz terharu mengingat pelakuannya selama ini.
“O ya, siapa tadi yang hebat ?” kata Ibu Firda untuk mengagetkan Diaz.
“Perasaan suara tadi mirip suara Ibu”, kata Diaz.
“Kalau iya, memangnya kenapa anakku sayang ?” kata Ibu Firda meyakinkan Diaz.
Diaz pun merasa kurang yakin dan membalikkan badannya ke belakang. Diaz terharu setelah melihat ibunya yang selama ini selalu sayang dengan dia kini telah ada dihadapan dia. Diaz langsung memeluk Ibu Firda dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini.
“ I love you so much”, kata Diaz dengan tulus.
Ibu Firda tersenyum dan memeluk dengan erat anaknya. Tiba-tiba paman dan Mirna memanggil mereka agar masuk ke mobil. Ibu Firda dan Diaz pun tertawa dan mereka berjalam menuju mobil tersebut.
Nenek pun bahagia melihat mereka semua datang dan menemaninya.
“Nenek kita semua datang”, kata Bu Firda, Diaz, Mirna dan Paman serentak.
“Kalian memang anak-anak dan cucu-cucuku yang sangat baik”, nenek bekata sambil tersenyum.
Akhirnya, semuanya berkumpul di ruang makan dan sambil menunggu azan untuk berbuka puasa. Di ruangan itu kasih sayang dan rindu tercurahkan. Diaz dan Mirna pun menyanyikan lagu Hawari yang berjudul Ibu.
“Huhuhu…huhuhu…
Bila ku ingat, masa kecilku…ku slalu menyusahkanmu…
Bila ku ingat, masa kanakku..ku slalu mengecewakanmu…
Banyak sekali pengorbananmu yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih kau berikan semua itu….
Engkaulah yang kukasihi..
Engkaulah yang kurindu..
Kuharap slalu doamu dari dirimu ya ibu…”

Semuanya saling berpelukan memecahkan suasana rindu yang sangat kuat dari Illahi nan suci dan tak terasa suara takbir pun bergema diluar sana. Mereka pun bertakbir dengan suka-cita.
“Allaahu akbar…. Allahu Akbar….Allahu Akbar…. Laailaahaillallah huwallhu akbar…”, mereka saling bersalaman dan berpelukan.

Selasa, 13 Desember 2011

Ehem,,,,Pemuda....yang diimpikan :)


Kaum muda pada zaman Nabi adalah pemuda-pemuda yang luar biasa. Pada awal penyebaran Islam, Nabi merekrut beberapa orang yang professional untuk menjadi kader da’wah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan memperkenalkan ajaran tauhid yang mulia kepada masyarakat. Mereka dibina dan dibimbing dalam kelompok khusus yang disebut Assabiqunal Awwalun. Mereka mengkaji Islam secara intensif di rumah Arqam bin Abil Arqam. Seperti halaqah zaman sekarang yang biasa kita lakukan di mentoring ataupun rohis. Hanya bedanya halaqah para sahabat yang langsung dibina oleh Rasul seperti ini  tidak memakai white board.
Salah satu anggota halaqah adalah Ali bin Abi Thalib yang kemudian kita menyebutnya sebagai Khulafaur Rasyidin keempat. Ali adalah seorang pemuda yang cakap, cerdas dan mahir berperang. Persentuhannya dengan Islam dan mengkajinya secara intensif langsung di bawah bimbingan Rasul membuatnya terus tumbuh menjadi pribadi seorang pemuda yang luar biasa.
Saat pertama kali Rasul memperkenalkannya dengan Islam, Ali sudah sangat tertarik. Dia sempat berpikir untuk minta izin kepada orang tuanya untuk masuk Islam. Tapi, logika dan pertimbangannya akan kondisi keimanan orang tuanya yang tidak baik pada saat itu, akhirnya ia membatalkan niatnya. Saat itu dia berpikir bahwa Allah saja tidak minta izin dengan orang tuanya untuk menghadirkannya di alam dunia. Maksudnya, mau berbuat baik saja kenapa harus minta izin terlebih dahulu.
Setelah dibina oleh Rasul, Ali semakin memperlihatkan keunggulan kepribadiannya. Ia tidak hanya unggul dalam akidah, ibadah dan akhlak, tetapi juga unggul dalam penampilan, kepandaian dan kecerdasan mengatur siasat. Ali juga terkenal dengan keberaniannya.
Saat Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq akan hijrah ke Yastrib. Ali-lah yang berperan untuk mengelabui kaum kafir Quraisy. Saat itu, Ali tidur di ranjang Rasul. Maka tertipulah kaum tentara kafir yang akan masuk mencelakai Rasul. Dengan berani dan cerdas. Ali berdebat dengan tentara-tentara itu. 

Masih banyak contoh sosok remaja yang hebat pada zaman Rasul yang merupakan hasil dari kajian Islam yang intensif. Misalnya Usamah bin Zaid yang menjadi jenderal dan komandan perang pada usia 18 tahun. Sedangkan kita pada saat usia seperti itu masih belajar ataupun masih bermain-main sajakan ? Ia memimpin peperangan melawan negara Romawi dengan anggota pasukan rata-rata veteran Perang Badar yang usianya jauh lebih tua dan dia sukses. Selain itu Usamah juga sudah bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Dan bagaimana dengan kita ?
Betapa luar biasanya pemuda pada zaman Rasul. Kita pasti ingin seperti mereka, maka dari itu kita harus mengenal dan mengkaji Islam kita secara lebih intensif dan jadilah pemuda yang bisa dibanggakan !
Akan tetapi ketika kita ingin menjadi pemuda yang bisa dibanggakan, terkadang kita mungkin sering merasa bahwa kita mempunyai begitu banyak kekurangan. Misalnya perasaan kurang tampan atau cantik, kurang kaya, kurang pandai, kurang bergaul, kurang bahagia sampai kurang pekerjaan. Sebenarnya apakah benar kalau manusia itu tempatnya segala kekurangan ?
Coba kita melihat makhluk Allah yang lainnya, seperti hewan kucing dan nyamuk. Kucing tidak pernah protes dengan Allah bahwa tubuhnya penuh dengan bulu dan belakangnya mempunyai ekor ataupun nyamuk yang mempunyai badan yang kecil dan biasanya menjadi makanan cicak, mereka tidak pernah mengeluh dengan kekurangan tersebut. Sekarang apakah kita masih merasa banyak kekurangan ?
Manusia bukan diciptakan sembarangan dan tidak sama dengan teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dari sebuah proses evolusi bertingkat, yang awalnya adalah dari nenek moyang kita yang katanya sebangsa kera dan ditambah dengan teori yang mendukung teori tersebut bahwa manusia terbentuk dari asam amino yang terjadi secara kebetulan. Pendapat ini terlihat sangat meremehkan manusia, padahal manusia diciptakan tidak sembarangan.
Kita sudah mengetaui bahwa Allah Yang Mahakuasa tidak mungkin menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia dan sembarangan. Allah pasti telah mempersiapkan sedemikian rupa hasil ciptaan-Nya tersebut serta memfasilitasi bermacam perangkat untuk kehidupan dan proses hasil ciptaan-Nya tersebut.
Manusia juga begitu. Kita diciptakan Allah dengan proses yang rapi, jelas dan penuh perhitungan. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hajj : 5 secara rinci tentang proses penciptaan kita dan tahapan hidup kita. Awalnya kita diciptakan dari sari pati tanah yang dimakan oleh ayah dan ibu. Sari pati itu terdapat dalam berbagai makanan yang dimakan. Lalu menjadilah ia zat-zat yang membentuk hormone, jaringan, daging, tulang dan sel sperma pada ayah dan sel telur pada ibu.
Melalui ikatan pernikahan terjadilah hubungan suami-istri yang dalam bahasa kedokeran disebut coitus (persetubuhan). Dari jutaan sel sperma yang terdapat dalam air mani seorang ayah, hanya sekitar 1200-1700 sel yang berhasil masuk ke dalam tubuh ibu. Dari begitu banyaknya sel hanya satu saja yang berhasil membuahi sel telur ibu. Kemudian menjadi segumpal darah dan bersemayam di rahim sekitar 4 minggu, panjangnya baru sekitar 7 sentimeter. Lalu berproses menjadi segumpal daging yang sempurna dan yang belum sempurna. Sehingga mulai tumbuh tulang belakangnya dan di rahim pun juga, ruh ditiupkan dan dituliskan semua takdir.
Setelah sembilan bulan keluarlah bayi. Sang bayi terus tumbuh menjadi anak kecil yang manis dan masih lugu, remaja, pemuda yang dewasa, dan tua. Di antaranya ada juga yang diwafatkan muda dan ada yang dipanjangkan umurnya.
Dari sini terlihat bahwa manusia itu tidak diciptakan Allah dengan seksama tidak sembarangan dan penuh kecermatan. Tidak salah kalau Allah kemudian menggelari manusia sebagai hasil ciptaan-Nya sebagai sebaik-baiknya bentuk.
Karena manusia adalah hasil ciptaan Allah yang sempurna, baik bentuk, rupa, dan akal. Sehingga Allah mengamanahkan bumi dan seisinya agar dijaga, dipelihara, dimanfaatkan dan dimakmurkan. Oleh karena itu manusia disebut khalifah (penguasa, pimpinan) di muka bumi.
Tidak lupa pula Allah memberi begitu banyak kesempurnaan kepada kita. Kita adalah makhluk yang bentuknya paling baik ( QS. At-Tin : 4 ). Karena kesempurnaan manusia maka Allah memuliakan manusia berupa amanah untuk memimpin dan mengelola bumi, diberi kebebasan memilih antara yang baik atau yang buruk ( QS. Al-Balad :10 ) serta diminta untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita kelak ( QS. Al-Isra : 36 ). Jadi, walaupun kita mendapat gelar “ yang terbaik”, kita tidak boleh melakukan sesuka hati. Akan tetapi, sebenarnya kita mempunyai banyak tugas.[1]
Tugas tersebut maksudnya tidak lain agar kita menjadi lebih baik sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah dan sudah tentu pula kepada seluruh manusia di alam ini.
Tugas kita sebagai manusia yang terbaik di muka bumi adalah yang pertama,jangan keruhkan hati[2] yang artinya sucikanlah hati menuju Allah dari segala perkara yang menodai dan mengeruhkannya.
Kedua, beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah dalam setiap napas kita.Di samping ibadah khusus, semua tindakan diusahakan menjadi ibadah. Seperti belajar, makan, membaca, bergaul sampai tidur pun ibadah.( QS. Adz-Dzariyat : 56 dan QS. Al-Baqarah : 177 ). Termasuk juga disini  mengolah bumi dan seisinya dengan baik.
Ketiga, mengajak orang lain untuk berbuat baik. Setelah kita mengetahui hakikat manusia sebagai yang terbaik. Maka untuk lebih meramaikan alam ini, tentu kita harus mengajak teman-teman, saudara dan semua yang kita kenal atau yang tidak kenal sekalipun untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jelek ( QS. Ali-Imran : 110 )
Keempat, bersyukur atas semua kesempurnaan dan kelebihan yang Allah berikan. Jangan mengeluh. Lebih baik kita berbagi kepada yang belum tahu atau tidak seberuntung kita, misalnya mengajari teman kita yang tidak bisa ekonomi, sementara kita adalah ahli ekonomi dikalangan teman-teman kita.[3]
Kelima, meningkatkan potensi positif. Dengan menggali potendi diri yang positif dan mengurangi sedikit-sedikit hal yang buruk. Maka kita tidak akan menjadi orang yang suka mengeluh karena kita sudah mendapatkan gelar yang terbaik.
Keenam, berani tampil beda, tantangan, pendapat dan mandiri. Berani tampil beda dalam hal yang positif. Sekarang zamannya orang memakai baju ketat bagi perempuan tapi bagi akhwat kita bisa dan harus tampil berani dengan berjilbab atau berani menghadapi tantangan untuk memimpin suatu acara besar periode ini, yang terpenting adalah dimana pun posisi kita, kita sebagai pemuda bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jika itu bertentangan dengan syariat Islam, maka kita bisa menolaknya dengan pendapat kita yang sesuai tanpa menyinggung perasaan orang lain.
Jadi, untuk menjadi pemuda yang terbaik  di antara yang diimpikan salah satu caranya adalah selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada kita. Dengan bersyukur, kita akan merasakan betapa dekatnya Allah kepada kita dan kita akan merasakan menjadi pemuda juara yang menyejukkan jiwa.[4] Rasa syukur tersebut akan menyebabkan kita selalu tenang dan bahagia, baik dalam hati ataupun nampak dari gerak-gerik kita. Sehingga membuat kita termotivasi untuk ingin menguasai iptek dan ilmu keislaman.






[1] Ifa Avianty, 2007, Be a Happy Teenager 2, Zikrul Remaja, hlm. 47.
[2] Shalahuddin ‘Ali ‘Abdul Maujud, 2008, Jangan Keruhkan Hati, Mirqat, hlm. 1.
[3] Rusdin S. Rauf, 2008, Smart Salat for Teens, Hamdalah, hlm. 156.
[4] Ahmad Zairofi AM, Tarbawi, 5 Maret 2009

Jumat, 25 November 2011

Seuntai kata untuk penyemangat


Debu-debu menyesak disetiap langkah..
Saputangan putihpun telah ternodai dengan keringat yang kau relakan..
Tak ada kata selain terimakasih dan pujian yang khusus untukmu…
Kata semangat terlihat dari gerak-gerikmu…
Terkadang aku menjadi tersipu malu pada diriku..
Kenapa aku selalu tersimpuh ke ruang yang hampa..

Sehampanya ruangan itu..
 Kehadiranmu bagai bara api yang indah dan guna..
Teruslah berjuang dengan tekadmu..
Melangkahlah dengan berkah dan ridho-Nya..
Ucapkanlah lantunan yang indah lagi baik..
Semoga yang tersentuh..
Mendapat benih yang selalu tumbuh..

By Laila Martasari
Ditengah kegiatan yang meliputiku