Senin, 02 Mei 2011

Just for You

PENANTIAN (?)
(especially for my husband to be)
This is a diary of girl that watch for the real love*
_I copy and write this heart’s voice (with editing) just to be mused by all of you_

Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali, untuk dirimu yang ku juga tak tahu siapa sebenarnya dirimu. Sebenarnya, aku tidak pernah berniat memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Masa dimana dirimu hadir menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.

Orang tuaku telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga muru’ah serta mahkota diriku, karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab terhadap anak gadisnya ialah menjaga dan mendidiknya sehingga kelak seorang lelaki mengambil alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau adalah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun, karena aku tidak mau membelakangi dan mengkhianatimu.


Aku menghalangi diriku dari mengenal lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki selain dirimu, wahai calon suamiku. Dengan sekuat tenaga, dengan “kodratku yang lemah” ini, ku coba batasi pergaulanku dengan yang bukan mahramku. Aku sering merasa tidak selamat dari perhatian dan pandangan lelaki. Bukannya aku berprasangka buruk tehadap kaummu, tetapi lebih baik aku waspada, karena realita telah nampak di depan mata.
Ku coba palingkan wajahku dari lelaki yang mungkin tengah asyik memperhatikanku, sedaya mungkin kularikan pandanganku dari lelaki ajnabi, karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan bahwa “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki”. Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki manapun, biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki, seakan-akan itu adalah sebuah hinaan bagiku, seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.



Aku juga tidak mau menjadi penyebab down-nya seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Apa yang harus ku jawab di hadapan Allah andaikan ditanya kelak? adakah itu bentuk sumbangsihku kepada manusia selama hidup di bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku untukmu karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu juga hanya untuk lelaki yang baik pula? Ku yakin itu.


Tapi, tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan ingin menyayangi dan disayangi. Namun, setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itu itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu, karena ia semata-mata murni hanya untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci, bukan hati yang sempat menjadi labuhan laki-laki lain, dan engkau berhak mendapatkan kasih sayang tulus dariku.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan tapi terkesan main-main denganku. Dengan tegas aku menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tapi dia tetap tidak putus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupan yang selama ini tenang telah dirampas dariku. Dalam hati ku bertanya, adakah aku berada di tebing jurang kebinasaan cinta yang semu? Aku beristighfar memohon ampun pada-Nya, dalam hatiku terpanjat do’a agar Sang Pemilik segala rasa cinta melindungi diriku dari rasa yang terkadang menyesatkan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu—duhai calon suamiku—, dan kurasakan kau seolah-olah wujud dan melebur bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu, lelaki itu mungkin bukan dirimu, malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan bahwa lelaki itu bukanlah teman hidupku kelak.

Aku bukanlah gadis sempurna yang mencari kesempurnaan dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku bagaikan butiran pasir pantai yang tak jarang jadi pijakan orang. Tapi, aku juga punya keinginan layaknya wanita—shalehah— lain, dilamar lelaki yang bisa membimbing aku serta anak-anak kita kelak dan menuntunku ke satu tujuan akhir, yakni surga ( ehmm…with the key of Paradise aja……….. :)


Andaikan kaulah jodohku yang tertulis di Lauh al-Mahfudz, aku yakin seyakin-yakin keyakinanku, Allah pasti akan menanamkan rasa cinta dan kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita belum diikat dengan ikatan yang sah, jangan mubadzirkan perasaan itu karena kita masih belum mempunyai hak untuk itu, ku mohon juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan dengan indah, keindahan yang akan terasa jika sudah pada waktunya.


Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang kurang baik pada kehidupan kita kelak.
Permintaanku tidaklah banyak, mungkin cuma serpihan kecil dari bongkahan-bongkahan batu egoku. Cukuplah engkau serahkan seluruh dirimu padaku dengan mengharap ridha Illahi. Aku akan merasa sangat amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuangan dan keluh-kesahmu, bahkan aku akan sangat bersyukur pada Illahi karena kiranya akulah yang ditakdirkan untuk meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu saat kau hampir rebah atau bahkan tersungkur di perjalanan mencari ridha-Nya. Akan ku keringkan keringat di keningmu dengan tanganku sendiri, itulah impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu padaku. Cukuplah kau mencintai ALLAH dengan sepenuh hatimu, karena dengan mencintai-Nya, kau pasti juga akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi dari cinta biasa, dan moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di surga yang abadi.
Amiiin………………………..

* adapted from Mutiara Amaly, Rona Cinta dan Keagungan-Nya.
Kenangan dan ketenangan waktu di pondok dulu, akankah masih bisa kuraih????
Astaghfirullah al-adzim, ampuni hambamu ini ya Allah…… :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar