Senin, 22 Agustus 2011

Hatimu untukmukah... ??

Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?
1. Introspeksi diri. Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

2. Perbaikan Diri. Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

3. Tadabbur Al Qur’an. Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.
4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh. Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk.

5. Mengisi Waktu dengan Zikir. Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.
6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh. Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut.

7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim. Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain.
8. Mengingat Mati. Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

9. Menghadiri Majelis Ilmu. Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.

10. Berdo’a kepada Allah SWT.. Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu).
Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam. (Ust. Aam Amiruddin)

Jumat, 19 Agustus 2011

Salam bahagia semuanya…. ^_^


Sengaja saya menuliskan ini sekaligus saya sendiri juga memahami nasehat yang dituliskan oleh DR. Hasan Syamsi Basya dalam bukunya yang berjudul “kubisikkan pesan cinta untukmu”. Kalau kata orang dulu, “sambil menyelam, minum air”. Itu berarti sambil memahami, saya juga menuliskannya. InsyaAllah ini berguna untuk kita semua…

Amiin Ya Allah… :D

 Kali ini yang saya akan tulis berjudul :


JANGAN MENYIA-NYIAKAN WAKTU KITA

Bukankah hal yang mengherankan bila kita mendengar teman-teman kita yang menyiakan waktunya sambil bermain kartu, chatting di internet, membicarakan kehormatan orang lain atau hal-hal yang sejenisnya ?!
Apakah waktu merupakan musuh sehingga mesti dibiasakan ?! Apakah kesuksesan dalam hidup perlu membunuh sang waktu untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia ?!

Bukankah yang paling penting ialah kita mengoptimalkan waktu daripada menyia-nyiakan ?!
Bukankah tindakan bodoh bila kita bersikap sewenang-wenang terhadap sesuatu yang mesti kita optimalkan sebaik mungkin ?!

Kenikmatan yang tidak boleh kita sia-siakan
Waktu luang merupakan kenikmatan yang paling utama  dan karena itu ia mesti dioptimalkan sebaik mungkin. Waktu luang merupakan kesempatan untuk memperbaiki segenap aktivitas, mengoptimalkan potensi diri, dan mengasah ketangkasan.

Rasulullah telah memperingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu luang serta menghargai kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Hal ini sebagaimana tampak dalam sabdanya,
“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Tirmidzi).

Dengan kata lain, hadits tersebut menjelaskan bahwa sehat dan waktu merupakan kenikmatan yang paling utama namun ternyata sering disia-siakan hanya untuk perbuatan yang nilainya sangat rendah.

Mengenai pentingnya mengoptimalkan dua kenikmatan tersebut, Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Tiada hari yang ketika fajar mulai menyingsing kecuali ada suara penyeru yang mengajak pada kebaikan,’Wahai Ibnu Adam, aku adalah makhluk baru. Dan atas segala amalmu, akulah yang menjadi saksinya. Karena itu, perbanyaklah olehmu amal shaleh. Sesungguhnya aku tak hendak kembali (ke pangkuan Allah) sampai hari kiamat tiba.’”

Jika demikian, apakah kita termasuk orang yang meningkatkan amal shaleh di setiap harinya ?

Permainan..joged…nyanyian
Sebagian pemuda ada yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam kafe-kafe dan tempat-tempat hiburan. Dalam tempat-tempat seperti itu mereka duduk bersama sahabat-sahabat mereka, dan dalam pikiran mereka tidak pernah terbesit sedikit pun berzikir kepada Allah. Bahkan mereka senang sekali berbicara kotor, menjelek-jelekan kehormatan orag lain, ghibah dan lain-lain.

Ada di antara mereka yang menyimpan nyanyian atau lagu-lagu tak bermoral. Ada yang senang menonton-baik secara terang-terangan maupun sembunyi- film-film yang menggumbar hawa nafsu. Ada yang memanjangkan rambutnya secara berlebih-lebihan. Ada yang mengikuti tingkah laku sang artis baik melalui cerita-cerita filmnya atau gaya hidupnya sehari-hari. Semua ini terjadi karena sebagian mereka penggemar berat terhadap sang artis film atau artis penyanyi. Bahkan ada yang menempel foto artis-artis tersebut pada dinding kamar mereka. Ada yang memasang kalung pada leher mereka, atau memasang gelang karet pada pergelangan tangan mereka, atau memasang perhiasan pada dada mereka.

Apakah mereka senang menjalani hidup seperti itu ? Apakah orangtua senang menyaksikan hidup anaknya seperti itu ? Apakah mereka senang bertemu dengan Allah dalam keadaan seperti itu ? Ketahuilah, sesungguhnya  Malaikat Maut saat mencabut nyawa tidak membedakan antara orangtua dan pemuda, antara orang kaya dan fakir, antara orang sakit dan sehat.

Sudah sering kali kita mendengar kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa para pemuda di mana tujuan kepergian mereka adalah hendak bernyanyi dan berjoged di tempat hiburan. Perut mereka penuh dengan harta. Dan akhirnya, ketika mereka dipulangkan ke rumah, mereka sudah menjadi mayat yang ditaruh di dalam keranda. Dan di antara mereka  tidak ada yang diberi kesempatan untuk bertaubat kepada Allah.
Allah SWT. Berfirman,

“Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hokum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat.” (QS. Al-An’am : 62).

Mereka keluar sambil  mengendarai mobil yang mewah, dengan parfum wangi yang memerciki pakaian yang indah. Namun sekembali ke rumah, keadaan mereka membujur  di dalam keranda mayat, dan akhirnya mereka ditimbun di dalam tanah.

Coba kita perhatikan keadaan mereka yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah kamu kurniakan kepadamu; dan kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Allah di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) di antara kamu dan telah lenyap dari pada kamu apa yang dahulu kamu anggap sekutu Allah.”(QS. Al-An’am: 94)

Sumber : Dr. Syamsi Basya, Hasan ,Kubisikkan Pesan Cinta Untukmu,Mirqat,2006

Pertumbuhan Bank Syari’ah

“Za, bagaimana sih sejarah perkembangan bank syariah di dunia ?” tanya Mahfuz. Dia mulai tertarik menanyakan topic yang lebih luas.

“Penerapan system profit and loss sharing (bagi hasil keuntungan dan kerugian) di dunia mulai diterapkan pertama kali di Pakistan dan Malaysia sejak sekitar tahun 1940-an, yaitu dengan adanya upaya pengelolaan dana jamaah haji secara inovatif  dengan system bagi hasil,” jawab Reza.

“Lalu bank syariah di dunia ini didirikan sejak kapan, Za ?” tanya Mahfuz lagi.

“Bank syariah di dunia dimulai dengan didirikannya Mit Ghamr Bank – di Kairo, Mesir, pada sekitar tahun 1963. Secara signifikan, perkembangan bank syariah di dunia mulai berkembang pesat sejak didirikannya Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah, pada tahun 1975,” jelas Reza.

“Kalau di Negara lain bagaimana, Za ?” tanya Mahfuz ingin tahu.

“Oh ya, setelah itu disusul oleh Dubai Islamic Bank (1975), Kuwait Finance House (1977), Islamic Faisal Bank (di Mesir dan Sundan) pada tahun 1978, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic Bank, dan  Islamic International Bank for Investment and Development. Setelah itu, barulah bank syariah mulai menjamur di seluruh dunia,” tutur Reza.

“Kalau di Indonesia sendiri bagaimana, Za ?” tanya Mahfuz lagi.

“Perkembangan bank syariah di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan perbankan syariah di Negara-negara Islam pada tahun 1970-an. Pada awal periode 1980-an, para cendikiawan muslim telah mulai mengembangkan wacana dan studi mengenai bank syariah,” jelas Reza.

“Setelah itu kelanjutannya bagaimana, Za?” tanya Mahfuz lagi.

“Setelah melalui kajian yang cukup panjang, Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) pada 18-20 Agustus 1990 menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor. Hasil lokakarya tersebut ditindaklanjuti dengan diadakannya Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta pada tanggal 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas tersebut dibentuklah Kelompok Kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia,” papar Reza. 

Minggu, 07 Agustus 2011

Tabungan Skripsiku Ceria



Setiap tahun semua kebutuhan meningkat, maka perlu pengantisipasian yang lebih baik dan sesuai dengan pendapatan mahasiswa. Salah satu kebutuhan kita adalah untuk biaya kuliah setiap semesternya, khususnya untuk skripsi, konsumsi sehari-hari, transportasi dan lain-lain, ini versi untuk mahasiswa.
Melihat kebutuhan itu semua, mungkin ada inisiatif dari masing – masing mahasiswa menabung sendiri atau berbisnis untuk dana tambahan diri sendiri. Akan tetapi, kadang – kadang setelah menabung dan sudah direncanakan dari awal dana itu untuk biaya sksipsi nanti, akan dipakai sendiri untuk kebutuhan yang pada waktu itu sangat diperlukan. Sehingga tabungan mahasiswa pun otomatis akan berkurang dari tabungan awal.
Ini disebabkan karena uang tersebut ada di tangan kita sehingga untuk memakainya pun relative lebih mudah.
Oleh karena itulah dibutuhkan tabungan skripsi dari perbankan syariah. Dimana produk ini lebih murah dan relative stabil serta memilki misi customer education, yang khususnya untuk skripsi mahasiswa. Simpanan ini, menggunakan akad wadiah ( titipan ), dimana bank syariah dapat membagikan bonus, baik dalam bentuk uang maupun hadiah tanpa diperjanjikan sebelumnya.
Agar lebih menarik namun tetap memperhatikan efesiensi dan efektivitas, pengembangan produk dan fitur – fiturnya akan dikemas sedemikian rupa dengan memperhatikan kebutuhan setiap segmen mahasiswa, termasuk pengembangan fitur berbasis teknologi.
Dengan demikian, mahasiswa pun akan berlomba – lomba menabung untuk kebutuhan skripsi nanti.
Walaupun, sebenarnya pada saat mau skripsi mahasiwa bisa menabung pada waktu mau menghadapi masa-masa skripsi. Tetapi, akan lebih baiknya lagi jika mahasiswa menabung untuk kebutuhan skripsi lebih awal. Mengingat kebutuhan skripsi semakin tahun meningkat. Jadi, solusi untuk kebutuhan skripsi mahasiswa sekarang adalah Tabungan Skripsiku Ceria.