Jumat, 28 Oktober 2011

Green Banking sebagai daya saing bank syariah menghadapi MEA


Green Banking sebagai daya saing bank syariah menghadapi MEA
Sore yang teduh pada hari kamis tanggal 20 Oktober 2011, bertempat di ruangan Al-Ghazali STEI Sebi Depok terdapat acara kajian IsEF yang dipenuhi dengan semangat para pejuang ekonom rabbani angkatan 2008, 2009, 2010 dan tak lupa pula ada angkatan 2011.
Kajian ini bertemakan Green Banking sebagai daya saing bank syariah enghadapi MEA dengan pembicara Saiful Anwar SE. MSI (Kandidat Doktor dari Jepang).
Kajian kali ini dibuka oleh ka Eko, pembacaan kalam Ilahi oleh Dede Mariadi, sambutan oleh Pak Dadang Romansyah, SE., Ak., MM, SAS dan dimoderatori oleh Pak Hendro Wibowo.
Pak Hendro mengatakan sesuatu sebelum kita semua memulai kajian. Yang pada dasarnya beliau menyampaikan bahwa Indonesia merupakan peringkat ke 4 dari Negara-negara yang lain setelah Iran, Malaysia dan Arab Saudi dalam hal Industri Keuangan.
Setelah itu kajianpun dimulai oleh sosok Kandidat Doktor dari Jepang ini dengan menjelaskan perbedan ekonomi konvensional dan ekonomi islam. Kemudian dilanjutkan dengan realita permasalahan ekonomi dunia, permasalahan ekonomi di tanah air ini dan disertai dengan solusi yang sesuai dengan permasalahan sekarang.
Bersumber dari dasar Ekonomi Islam dalam QS. Al-Hasyr : 7. Disini dinyatakan bahwa harta itu jangan sampai hanya berputar pada orang kaya saja. Akan tetapi, menurut Pak Saiful, harta itu seharusnya didistriboturkan kepada kalangan yang tidak mampu dan miskin agar permasalahan ekonomi pun secara bertahap akan terkendali.
Solusi dari permasalahan ini adalah karena yang populernya adalah Perbankan Syari’ah, maka seharusnya bagaimana caranya perbankan syariah tersebut lebih dekat lagi dengan kalangan masyarakat menengah, terutama menengah ke bawah yang kebanyakannya mereka adalah seorang petani,pedagang dan lain-lain.
Lebih diutamakan adalah yang berkenaan dengan modal untuk pembiayaan kegiatan usaha masyarakat dalam produk barang dan jasa.
Sebenarnya beberapa inovasi produk telah dilakukan oleh perbankan syariah, akan tetapi semuanya butuh proses yang berkelanjutan. Maka dari itu Para PEJUANG EKONOM Rabbani sangat dibutuhkan untuk masa depan yang diimpikan. 
Salam Ekonomi Rabbani… :)


Senin, 10 Oktober 2011

Pertumbuhan Bank Syari’ah


“Za, bagaimana sih sejarah perkembangan bank syariah di dunia ?” tanya Mahfuz. Dia mulai tertarik menanyakan topic yang lebih luas.

“Penerapan system profit and loss sharing (bagi hasil keuntungan dan kerugian) di dunia mulai diterapkan pertama kali di Pakistan dan Malaysia sejak sekitar tahun 1940-an, yaitu dengan adanya upaya pengelolaan dana jamaah haji secara inovatif  dengan system bagi hasil,” jawab Reza.

“Lalu bank syariah di dunia ini didirikan sejak kapan, Za ?” tanya Mahfuz lagi.

“Bank syariah di dunia dimulai dengan didirikannya Mit Ghamr Bank – di Kairo, Mesir, pada sekitar tahun 1963. Secara signifikan, perkembangan bank syariah di dunia mulai berkembang pesat sejak didirikannya Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah, pada tahun 1975,” jelas Reza.

“Kalau di Negara lain bagaimana, Za ?” tanya Mahfuz ingin tahu.

“Oh ya, setelah itu disusul oleh Dubai Islamic Bank (1975), Kuwait Finance House (1977), Islamic Faisal Bank (di Mesir dan Sundan) pada tahun 1978, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic Bank, dan  Islamic International Bank for Investment and Development. Setelah itu, barulah bank syariah mulai menjamur di seluruh dunia,” tutur Reza.

“Kalau di Indonesia sendiri bagaimana, Za ?” tanya Mahfuz lagi.

“Perkembangan bank syariah di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan perbankan syariah di Negara-negara Islam pada tahun 1970-an. Pada awal periode 1980-an, para cendikiawan muslim telah mulai mengembangkan wacana dan studi mengenai bank syariah,” jelas Reza.

 “Setelah itu kelanjutannya bagaimana, Za?” tanya Mahfuz lagi. 

“Setelah melalui kajian yang cukup panjang, Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) pada 18-20 Agustus 1990 menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor.  Hasil lokakarya tersebut ditindaklanjuti dengan diadakannya Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta pada tanggal 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas tersebut dibentuklah Kelompok Kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia,” papar Reza.

Sabtu, 08 Oktober 2011

TALKSHOW EKONOMI SYARIAH

Amuntai, minggu 11 september 2011 Himpunan Mahasiwa Kalsel yang kuliah STEI SEBI Depok memulai aksinya dengan mengadakan acara Talkshow Ekonomi Syariah.Pesertanya dari berbagai kalangan pelajar dan mahasiswa yang ada di Amuntai.Ada yang dari mahasiswa STAI RAKHA, STIQ ( Sekolah Tinggi Ilmu Qur’an) dll.Adapula yang dari pelajar, yakni MA NIPI RAKHA, MA NIPA RAKHA, MAN 1 AMUNTAI, MAN AMUNTAI, SMA 1 AMUNTAI dsb.

Ketua pelaksana acara Talkshow Ekonomi Syariah, namanya Ka Gazali sem 5.
Ka Gazali menyampaikan sambutannya yang isinya adalah ucapan terimakasih kepada semua pihak yang bersangkutan dalam acara ini dan mengucapkan maaf apabila ada yang kurang dalam acara ini.
Cukup singkat sambutannya dan bagus.
Kemudian, ada ice breakingnya juga lohh… :)
Apa yaaah ? ini dia,,,

Awalnya, kaget juga waktu mo ditunjuk jadi pembaca puisi. Persiapan Cuma malam z, trus besok paginya masih jaga-jaga. Takutnya ada yang kurang dalam acaranya.

Pembacaan puisi, :)

Yang dibacakan oleh Laila Martasari sem 3,
Puisinya berjudul  Menuntut keadilan karya Monalisa.
 
Dalam acara ini yang menjadi MC adalah Haitami.

Moderatornya adalah Julianda Rosyadi yang kuliah di STAN.
Kalau yang satu ini, gak mau kalah dengan MC. Dia selalu menghibur pendengarnya, baik itu berupa teka-teki atau dengan ceritanya yang bikin kita semua ketawa.
Lucu yaa,,, :D


O iya, ada lagi nih yang belum disebutin…
Apa yaaah ??
Ada pembicara kita,bapak Ismet Suryadi (Praktisi perbankan Syariah) dan Bapak Dommi Hidayat (Dosen plus pengamat Ekonomi Syariah).

Saat dimulai pembahasan tentang ekonomi syariah dari dua pembicara, teman-teman peserta sangat antusias mendengarnya. Inti dari  Talkshow ini sebenarnya adalah untuk memahamkan pemikiran teman-teman peserta tentang ekonomi syariah yang mendasar dalam kehidupah sehari-hari. Kalau untuk membahas tentang lembaga keuangan syariah yang lebih dalam, takutnya mereka tidak terlalu faham.



Hampir satu setengah jam  talkshow ini berjalan. Kemudian, dibuka sesi tanya jawab untuk memperjelas apa yang peserta rasakan kurang jelas.

Sangat menarik… :)

Hoow,,ada yang gak kalah menariknya teman-teman… pembagian hadiah kepada peserta yang aktif dan mempunyai pertanyaan yang bagus….ka rudini yang memberikan hadiah kepada ikhwan dan ka mahrini yang memberikan hadiah kepada akhwat,namanya Bintang.

Kenang-kenangan berupa sertifikat diberikan pula oleh Ka Gazali kepada pembicara dan Moderator.

Terakhir,,,,
Teman-teman yang menjadi panitia, ikhwannya ada tiga orang (ka Rudini, ka Gazali,nasih) dan akhwatnya ada enam orang ( Ka Mahrini, ka Helda,Ka anis, ka Mona,wafa dan saya sendiri).
Alhamdulillah semuanya berjalan tepat waktu dan suksessss…..  :) dan pesanku untuk teman-teman..
“Hal yang paling penting adalah selain kita faham, orang lain juga faham”