Jumat, 25 November 2011

Seuntai kata untuk penyemangat


Debu-debu menyesak disetiap langkah..
Saputangan putihpun telah ternodai dengan keringat yang kau relakan..
Tak ada kata selain terimakasih dan pujian yang khusus untukmu…
Kata semangat terlihat dari gerak-gerikmu…
Terkadang aku menjadi tersipu malu pada diriku..
Kenapa aku selalu tersimpuh ke ruang yang hampa..

Sehampanya ruangan itu..
 Kehadiranmu bagai bara api yang indah dan guna..
Teruslah berjuang dengan tekadmu..
Melangkahlah dengan berkah dan ridho-Nya..
Ucapkanlah lantunan yang indah lagi baik..
Semoga yang tersentuh..
Mendapat benih yang selalu tumbuh..

By Laila Martasari
Ditengah kegiatan yang meliputiku

Jumat, 18 November 2011

Berusaha Menjadi Yang Terbaik


Menjadi yang terbaik itu memang susah dan sulit selagi kita tidak mau bangkit dan mau berubah. Itulah kata-kataku untuk bulan ini ataupun tahun ini. Karena akhir-akhir ini aku banyak menyendiri, entah kenapa... kadang sepulang kuliah dan syuro aku lebih memilih pulang ke kosan. Pernah waktu di kampus ditanya teman-teman, “kamu sekarang jarang kelihatan di kampus semenjak liburan idul adha”.

Aku pun hanya tersenyum karena memang benar semenjak aku sakit waktu liburan, aku lebih memilih alternatif lain, yaitu menyibukkan diri dengan hal yang aku suka. Sekarang masih minggu-minggu UTS, suasana “akrab dengan buku” masih ada kulihat di kampus dan kosan.

Aku sering melihat orang-orang dengan berbagai sikap dan perilaku. Sangat uniik... bukan maksud aku untuk menyelidiki orang-orang tapi aku hanya ingin mengetahui hikmah dari bermacam-macam sifat tersebut. Hem.... lucu juga kalau semua orang mempunyai sifat selalu aktif. Pasti hidup ini akan hampa. Nanti tidak ada lagi yang ditegur supaya rajin, misalnya ngajak belajar ...”hayoo, belajar !”. sebaliknya juga, kalau semuanya mempunyai sifat pasif, maka tidak akan ada orang-orang yang ahli, professional dan berintelektual di dunia ini. 

Hari jum’at sore ini, aku sengaja duduk manis dengan ditemani jus jeruk ( subhanallah segaar) untuk menulis kata demi kata. Tenang rasanya hari ini,sebenarnya tadi pagi aku menunggu temanku untuk mengerjakan tugas, tetapi dia ga jadi datang (ko ga jadi ? ). Tiba-tiba,,,,nada dering hp ku terdengar berirama syahdu, seperti biasa itu berarti tanda sms masuk. Kubuka,isinya ialah :
“Teman-teman kita belajar bareng yuk di bawah pohon rindang”

Ini sms dari teman sekelas plus sejurusanku yang biasanya setia jarkomin kita, tempatnya itu biasa disebut DPR (ala formal. :) ). Alhamdulillah, tidak percuma aku datang ke kampus hanya untuk menunggu, tapi dapat ilmu juga untuk besok terakhir UTS, mudah-mudahan semoga berjalan dengan lancar. Amiin....

Semuanya memang tidak ada yang sia-sia, jika kita mau berubah dan pingin menjadi yang terbaik.. itu ga ada salahnya... pelan-pelan..dikit-dikit.. pasti ada jalannya. Awalnya tadi aku mau ngerjain tugas, tapi malah dapat ilmu sebagai peluru manisku untuk besok, fillughatil arabiyyah >> li ghadhan... InsyaALLAH ala maher Zein... ini baru salah satu dari beberapa milyar bahkan triliunan cerita hidup orang-orang ataupun pengalamanku (salah satunya ini pengalamannya, bukan bermaksud maksa).
Intinya, menjadi yang terbaik itu mudah kalau kita mau belajar dan berusaha. ^_^



Selasa, 01 November 2011

Ekonomi Syariah adalah Solusi Ekonomi Indonesia

Bertepatan hari sumpah pemuda, kamis tanggal 28 Oktober 2011 jam 16.00 WIB di ruangan Al-Ghazali IsEF STEI SEBI mengadakan kajian yang bertemakan “Ekonomi syariah adalah solusi ekonomi Indonesia”. Pembicaranya adalah Feddy Fabachrain, SEI.
Beliau mengatakan dalam kajiannya “Abad ke-16 dan abad ke-17 ada beberapa hal yang terjadi yaitu ketiadaan perhatian system islam dan ketiadaan pembangunan ekonomi islam. Setelah abad ke- 20 mulai muncullah ekonomi islam setelah terbukti bahwasanya ekonomi konvensional gagal. Islam mengatur berbagai aspek, misalnya kepemilikan dari peran Negara sebagai pengawas dan penanggung jawab, diutamakan produktivitas dalam organisasi, pendapatan yang merata dalam pendistribusian dan berkaitan pula  dengan politik.”
Yang lebih mencari perhatian adalah pendapat beliau  tentang Ekonomi Pancasila cocok dengan Ekonomi Islam. Misalnya dalam pasal 33 tahun 1945 tentang asas kekeluargaan  ini berkaitan dengan Ukhuwah Islamiyah.
Ekonomi islam itu sebenarnya terfokus dengan nilai – nilai ekonom. Maksudnya adalah jika dalam jiwa ekonom tersebut mempunyai sifat adil, professional, dapat dipercaya. Maka kita sebagai ekonom rabbani harus mempunyai sifat-sifat seperti itu, baik itu diterapkan dalam keluarga, masyarakat dan bahkan terhadap bangsa Indonesia.
Jadi sebenarnya pembahasan tentang ekonomi islam itu luas. Pak Feddy pun berpesan “Karena ilmu ekonomi islam tersebut luas, maka jadilah ekonom yang melihat,memahami dan menerapkan  sesuatu secara luas bukan hanya terfokus satu macam saja.”
Salam Ekonom Rabbani… ^_^