Truuut…tutututut….tututut….
Pagi hari suara burung-burung mulai berkicauan dan terdengar sudah di telinga Diaz yang sedang merapikan bajunya karena untuk bersiap-siap pergi ke Malang. Dia merapikan buku-bukunya semasa SMA yang mempunyai kenangan suka-cita disana. Debu-debu pun saling bertegur sapa di ruangan yang sudah rapi itu. Kaca jendela pun tersenyum indah terlihat oleh mata Diaz yang nampak sedih meninggalkan kamar kesayangannya itu. Di meja belajarnya masih dia letakkan foto yang sangat indah, foto ibu kesayangannya.
Air mata pun mengalir di pipi Diaz karena teringat dengan perhatian ibunya, senyuman ibunya. Ibunya yang bernama Firda, dia sekarang bekerja di Abu Dhabi sebagai marketing dalam sebuah perusahaan herbal ternama. Ini dilakukannya untuk menghidupi Diaz dan Mirna yang akan lulus kuliah di salah satu Universitas Depok pada Fakultas Ekonomi Syariah. Ibu Firda memang sangat perhatian dengan Diaz, akan tetapi Diaz tidak terlalu menanggapi perhatian Ibu Firda selama ini. Sewaktu Diaz sakit dan Mirna pergi keluar kota karena ada tugas skripsi dalam kuliahnya. Ibu Firda merelakan tidak bekerja dan pulang demi merawat anak kesayangannya. Mulai Diaz mau makan, digantikan pakaiannya oleh Ibu Firda dan kadang-kadang sampai tertidur demi menemani Diaz yang sedang sakit.
Diaz merasakan biasa saja memilki orangtua seperti Ibu Firda, padahal teman-temannya yang lain banyak yang iri kepada Diaz. Mereka menyayangkan sifat Diaz yang memperlakukan ibunya sendiri seperti bukan orangtuanya. Bahkan ketika teman-temannya SMAnya datang, dia tidak memperkenalkan ibunya kepada teman-temannya, bahkan dia menyuruh ibunya layaknya pembantu.
Setelah hampir mau masuk kuliah di Malang jurusan Teknologi Pertanian pada Universitas yang sama dengan Kak Mirna, Diaz mempunyai teman yang lumayan banyak. Diaz mempunyai teman akrab yaitu Fathi dan Azza. Merekalah yang selalu menasehati Diaz untuk menghormati ibunya sendiri.
“Diaz, Diaz… Dek kamu masih dikamar… ayo makan dulu ! “ kata Kakak Mirna.
“Iya Kak, bentar lagi aku akan makan”, kata Diaz.
Diaz pun keluar dari kamarnya dan melihat kamar ibunya yang penuh dengan warna-warni, rapi dan wangi. Tiba-tiba Diaz teringat senyuman ibunya, perhatiannya yang tulus dan tak pernah pudar kepadanya. Air mata Diaz selalu mengalir mengingat semua itu. Kemudian, dia melihat sebuah buku yang bertuliskan “Hidupku”.
Diaz perlahan-lahan membaca lembaran-lembaran yang sedikit berdebu itu, ternyata buku itu adalah diare ibunya, Ibu Firda. Isi dari buku ibunya lebih banyak menceritakan kelakuan Diaz yang selalu menganggap dirinya salah atau tidak sesuai dengan kehendak Diaz.
“Diaz…ayo cepat makan !” kata Kakak Mirna sedikit berteriak. Diaz terkejut, segera menghapuskan airmatanya dan menuju meja makan.
“Diaz ko lama baru mau makan ? Tenang kamu di Malang bakalan ada yang jagain kamu ko”, kata Kak Mirna mencoba menenangkan hati Diaz yang sedih tersebut.
“Iya Kak, tenang aja Kak… O ya Kak, Kakak punya no. Hp Ibu ?” Diaz bertanya kepada kakaknya.
“Ada de, mank kenapa… ? ”kakak bertanya ke Diaz.
“Saya kangen aja kak ma ibu “, Diaz menjelaskan.
Makan pun sudah selesai, Kakak pun langsung mencarikan no. Hp Ibu. Kakak masih merasa aneh dengan Diaz, akhir-akhir ini selalu yang ditanyakan masalah Ibu.
“Diaz sekarang aneh, biasanya kan kalau sesudah lulus sma… Pasti mereka merindukan suasana SMA, pengen ngumpul-ngumpul dan lain-lain. Kenapa Diaz ga ya ?” Kakak Diaz ngomong sendiri setelah memberikan no. Hp Ibu kepada Diaz.
Diaz langsung pergi ke ruang tengah dan duduk di sofa dengan santainya. Dilihatnya akuarium yang ada 2 ekor ikan, mereka sangat akrab seperti anak dan ibu. Sehingga ini yang membuat Diaz bertekad akan selalu menyayangi Ibunya. Diaz melirik hpnya dan menelpon Ibu.
“Pokoknya aku harus minta maaf dan mengatakan sayang kepadanya” kata Diaz berbicara sendiri sebelum diangkat telponnya.
“Wa alaikum salam Bu…”sapa Diaz
“Emm…Diaz, gimana kabarnya ?”suara Ibu Firda sangat gembira.
“Baik Ibuku, Ibu maafin Diaz ya selama ini…” Diaz memohon.
“Iya, sama-sama anakku sayang..” suara Bu Firda begitu lembut terdengar
“I love you my mother”,Diaz sangat bahagia setelah mengetahui ibunya tidak marah.
“Too… O iya, anakku sekarang mau lanjutin kemana kuliah ?” Firda mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan lanjutin ke Malang, Ibu kapan pulang ?” Tanya Diaz sambil minum air teh hangat.
“Ibu lebaran saja pulangnya karena disini Ibu ada kerja tambahan di luar kantor dan Ibu menyempatkan S3 juga Nak...” Firda menjelaskan.
“Yah, lama banget Ibu baru datang ...” suara Diaz agak sedih.
“Ibu usahakan secepatnya datang anakku... Kamu kapan ke Malang ?” Ibu Firda mencoba menghibur Diaz.
“Aku ke Malang hari ini Bu, ni sekarang mau berangkat. Makanya Ibu jangan lama-lama disana…aku kangen dengan Ibu”, Diaz membujuk Bu Firda untuk cepat pulang.
“Iya, InsyaAllah Ibu usahakan secepatnya pulang. Trus anakku kapan ke rumah lagi ?” Bu Firda bertanya kepada anaknya.
“Aku ga pulang Bu, aku tuk sementara bersama nenek di Malang”,kata Diaz agak berat rasanya meninggalkan rumahnya.
“Ya udah nanti, kalau Ibu pulang. Ibu akan ngajak Mirna untuk menjengok kamu di Malang sekalian merayakan hari raya disana”, Bu Firda meyakinkan Diaz.
Setelah lama berbicara di hp, kakak memanggil Diaz dan menyuruh bersiap-siap pergi ke Malang. Diaz pun minta doa ke Ibunya. Diaz langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil tas birunya tersebut dan pergi bersama pamannya menuju rumah nenek yang ada di Malang.
Nenek pun menyambut mereka dengan ramah tamah. Pamannya dan neneknya saling ngobrol di teras. Sedangkan Diaz jalan-jalan mengelilingi rumah neneknya. Rumah neneknya persis sama dengan rumahnya, ada akuarium, alat music, taman kecil dan lain-lain. Sehingga inilah yang membuat Diaz mau tinggal bersama neneknya.
Sudah 3 minggu Diaz bersama neneknya, Diaz sudah menjalankan puasa selama 3 minggu pula. Diaz selalu ke masjid untuk melakukan shalat tarawih bersama neneknya, tetapi biasanya dia didatangi oleh teman-temannya sehingga tak jarang Diaz lebih sering berangkat bersama mereka. Kadang-kadang, Diaz ikut bersama temannya untuk membangunkan orang-orang untuk bersahur. Diaz selalu bahagia dan senang di bulan ramadhan kali ini. Sebelumnya dia tidak pernah ikut-ikutan seperti itu.
Biasanya dia kalau di rumah nonton tv dan makan lagi. Ketika mengingat semua itu, Diaz pun tertawa dan berbicara sendiri.
“Betapa malasnya aku dulu, sekarang aku merasa ada yang lebih sempurna puasaku kali ini”, Diaz sambil masuk ke rumah nenek.
Neneknya mengajak sahur bersama, masakan neneknya sangat enak. Masakan ikan yang gurih ditambah sayur yang segar dan makanan yang lainnya.
“Makan yang banyak Diaz, biar kamu kuat besok puasanya”, kata nenek dengan terenyum.
“Iya nenekku… Nenek biasanya sendirian ya kalau bulan Ramadhan ?” Diaz bertanya dan berhenti mengunyah makanan.
“Iya, nenek sendirian disini. Nenek sekarang sangat senang dengan bulan puasa kali ini ada yang menemani.” Nenek tersenyum lagi.
“Nenek, ingat sama Ibu ?” Tanya Diaz setelah minum air putih.
“Iya ingat nene. Dia masih kuliah dan kerjakan di Mekkah ? Dia selalu menelpon nenek setiap bulan hanya untuk mengetahui kabar nenek bagaimana sekarang. Kamu beruntung punya Ibu seperti dia”, kata nenek dengan bangga punya anak seperti Firda, Ibunya Diaz.
“Iya, alhamdulillah nek”, kata Diaz dengan lembut.
“Gimana menurut kamu selama ini tinggal bersama nenek ?” nenek bertanya balik kepada Diaz.
“Tinggal disini mengasyikkan nek, aku punya banyak temen disini nek. Selain itu aku juga ga terlalu jauh menuju kampus.” Diaz sangat senang.
“Tapi sekarang … aku sangat kangen dengan Ibu”, kata Diaz dengan sedihnya.
“Ya udah nanti kita telpon Ibu, gimana ?”, kata nenek ngajak Diaz.
“Ga usah nek, kemarin katanya… mungkin pulangnya waktu lebaran. Jadi, masih lama dia datang kesini”, kata Diaz.
Diaz dan nenek membereskan meja makan dan bersiap-siap pergi ke mesjid yang ada di seberang tersebut. Dalam shalatnya Diaz berdoa agar dipertemukan dengan Ibunya tersebut.
Saat menjelang siang Diaz berinisiatif pergi ke perpustakaan kampus. Disana dia melihat foto Ibu Firda terpampang di Mading, setelah dilihat di brosur itu tercantum nama kampus Ibu yang sedang menggelar pelombaan internasional dan Ibu Firda adalah pemenang tahun yang lalu di kompetisi tersebut.
“O ya, siapa tadi yang hebat ?” kata Ibu Firda untuk mengagetkan Diaz.
“Perasaan suara tadi mirip suara Ibu”, kata Diaz.
“Kalau iya, memangnya kenapa anakku sayang ?” kata Ibu Firda meyakinkan Diaz.
Diaz pun merasa kurang yakin dan membalikkan badannya ke belakang. Diaz terharu setelah melihat ibunya yang selama ini selalu sayang dengan dia kini telah ada dihadapan dia. Diaz langsung memeluk Ibu Firda dan meminta maaf atas perlakuannya selama ini.
“ I love you so much”, kata Diaz dengan tulus.
Ibu Firda tersenyum dan memeluk dengan erat anaknya. Tiba-tiba paman dan Mirna memanggil mereka agar masuk ke mobil. Ibu Firda dan Diaz pun tertawa dan mereka berjalam menuju mobil tersebut.
Nenek pun bahagia melihat mereka semua datang dan menemaninya.
“Nenek kita semua datang”, kata Bu Firda, Diaz, Mirna dan Paman serentak.
“Kalian memang anak-anak dan cucu-cucuku yang sangat baik”, nenek bekata sambil tersenyum.
Akhirnya, semuanya berkumpul di ruang makan dan sambil menunggu azan untuk berbuka puasa. Di ruangan itu kasih sayang dan rindu tercurahkan. Diaz dan Mirna pun menyanyikan lagu Hawari yang berjudul Ibu.
“Huhuhu…huhuhu…
Bila ku ingat, masa kecilku…ku slalu menyusahkanmu…
Bila ku ingat, masa kanakku..ku slalu mengecewakanmu…
Banyak sekali pengorbananmu yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih kau berikan semua itu….
Engkaulah yang kukasihi..
Engkaulah yang kurindu..
Kuharap slalu doamu dari dirimu ya ibu…”
Semuanya saling berpelukan memecahkan suasana rindu yang sangat kuat dari Illahi nan suci dan tak terasa suara takbir pun bergema diluar sana. Mereka pun bertakbir dengan suka-cita.
“Allaahu akbar…. Allahu Akbar….Allahu Akbar…. Laailaahaillallah huwallhu akbar…”, mereka saling bersalaman dan berpelukan.







