Selasa, 13 Desember 2011

Ehem,,,,Pemuda....yang diimpikan :)


Kaum muda pada zaman Nabi adalah pemuda-pemuda yang luar biasa. Pada awal penyebaran Islam, Nabi merekrut beberapa orang yang professional untuk menjadi kader da’wah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan memperkenalkan ajaran tauhid yang mulia kepada masyarakat. Mereka dibina dan dibimbing dalam kelompok khusus yang disebut Assabiqunal Awwalun. Mereka mengkaji Islam secara intensif di rumah Arqam bin Abil Arqam. Seperti halaqah zaman sekarang yang biasa kita lakukan di mentoring ataupun rohis. Hanya bedanya halaqah para sahabat yang langsung dibina oleh Rasul seperti ini  tidak memakai white board.
Salah satu anggota halaqah adalah Ali bin Abi Thalib yang kemudian kita menyebutnya sebagai Khulafaur Rasyidin keempat. Ali adalah seorang pemuda yang cakap, cerdas dan mahir berperang. Persentuhannya dengan Islam dan mengkajinya secara intensif langsung di bawah bimbingan Rasul membuatnya terus tumbuh menjadi pribadi seorang pemuda yang luar biasa.
Saat pertama kali Rasul memperkenalkannya dengan Islam, Ali sudah sangat tertarik. Dia sempat berpikir untuk minta izin kepada orang tuanya untuk masuk Islam. Tapi, logika dan pertimbangannya akan kondisi keimanan orang tuanya yang tidak baik pada saat itu, akhirnya ia membatalkan niatnya. Saat itu dia berpikir bahwa Allah saja tidak minta izin dengan orang tuanya untuk menghadirkannya di alam dunia. Maksudnya, mau berbuat baik saja kenapa harus minta izin terlebih dahulu.
Setelah dibina oleh Rasul, Ali semakin memperlihatkan keunggulan kepribadiannya. Ia tidak hanya unggul dalam akidah, ibadah dan akhlak, tetapi juga unggul dalam penampilan, kepandaian dan kecerdasan mengatur siasat. Ali juga terkenal dengan keberaniannya.
Saat Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq akan hijrah ke Yastrib. Ali-lah yang berperan untuk mengelabui kaum kafir Quraisy. Saat itu, Ali tidur di ranjang Rasul. Maka tertipulah kaum tentara kafir yang akan masuk mencelakai Rasul. Dengan berani dan cerdas. Ali berdebat dengan tentara-tentara itu. 

Masih banyak contoh sosok remaja yang hebat pada zaman Rasul yang merupakan hasil dari kajian Islam yang intensif. Misalnya Usamah bin Zaid yang menjadi jenderal dan komandan perang pada usia 18 tahun. Sedangkan kita pada saat usia seperti itu masih belajar ataupun masih bermain-main sajakan ? Ia memimpin peperangan melawan negara Romawi dengan anggota pasukan rata-rata veteran Perang Badar yang usianya jauh lebih tua dan dia sukses. Selain itu Usamah juga sudah bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Dan bagaimana dengan kita ?
Betapa luar biasanya pemuda pada zaman Rasul. Kita pasti ingin seperti mereka, maka dari itu kita harus mengenal dan mengkaji Islam kita secara lebih intensif dan jadilah pemuda yang bisa dibanggakan !
Akan tetapi ketika kita ingin menjadi pemuda yang bisa dibanggakan, terkadang kita mungkin sering merasa bahwa kita mempunyai begitu banyak kekurangan. Misalnya perasaan kurang tampan atau cantik, kurang kaya, kurang pandai, kurang bergaul, kurang bahagia sampai kurang pekerjaan. Sebenarnya apakah benar kalau manusia itu tempatnya segala kekurangan ?
Coba kita melihat makhluk Allah yang lainnya, seperti hewan kucing dan nyamuk. Kucing tidak pernah protes dengan Allah bahwa tubuhnya penuh dengan bulu dan belakangnya mempunyai ekor ataupun nyamuk yang mempunyai badan yang kecil dan biasanya menjadi makanan cicak, mereka tidak pernah mengeluh dengan kekurangan tersebut. Sekarang apakah kita masih merasa banyak kekurangan ?
Manusia bukan diciptakan sembarangan dan tidak sama dengan teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dari sebuah proses evolusi bertingkat, yang awalnya adalah dari nenek moyang kita yang katanya sebangsa kera dan ditambah dengan teori yang mendukung teori tersebut bahwa manusia terbentuk dari asam amino yang terjadi secara kebetulan. Pendapat ini terlihat sangat meremehkan manusia, padahal manusia diciptakan tidak sembarangan.
Kita sudah mengetaui bahwa Allah Yang Mahakuasa tidak mungkin menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia dan sembarangan. Allah pasti telah mempersiapkan sedemikian rupa hasil ciptaan-Nya tersebut serta memfasilitasi bermacam perangkat untuk kehidupan dan proses hasil ciptaan-Nya tersebut.
Manusia juga begitu. Kita diciptakan Allah dengan proses yang rapi, jelas dan penuh perhitungan. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hajj : 5 secara rinci tentang proses penciptaan kita dan tahapan hidup kita. Awalnya kita diciptakan dari sari pati tanah yang dimakan oleh ayah dan ibu. Sari pati itu terdapat dalam berbagai makanan yang dimakan. Lalu menjadilah ia zat-zat yang membentuk hormone, jaringan, daging, tulang dan sel sperma pada ayah dan sel telur pada ibu.
Melalui ikatan pernikahan terjadilah hubungan suami-istri yang dalam bahasa kedokeran disebut coitus (persetubuhan). Dari jutaan sel sperma yang terdapat dalam air mani seorang ayah, hanya sekitar 1200-1700 sel yang berhasil masuk ke dalam tubuh ibu. Dari begitu banyaknya sel hanya satu saja yang berhasil membuahi sel telur ibu. Kemudian menjadi segumpal darah dan bersemayam di rahim sekitar 4 minggu, panjangnya baru sekitar 7 sentimeter. Lalu berproses menjadi segumpal daging yang sempurna dan yang belum sempurna. Sehingga mulai tumbuh tulang belakangnya dan di rahim pun juga, ruh ditiupkan dan dituliskan semua takdir.
Setelah sembilan bulan keluarlah bayi. Sang bayi terus tumbuh menjadi anak kecil yang manis dan masih lugu, remaja, pemuda yang dewasa, dan tua. Di antaranya ada juga yang diwafatkan muda dan ada yang dipanjangkan umurnya.
Dari sini terlihat bahwa manusia itu tidak diciptakan Allah dengan seksama tidak sembarangan dan penuh kecermatan. Tidak salah kalau Allah kemudian menggelari manusia sebagai hasil ciptaan-Nya sebagai sebaik-baiknya bentuk.
Karena manusia adalah hasil ciptaan Allah yang sempurna, baik bentuk, rupa, dan akal. Sehingga Allah mengamanahkan bumi dan seisinya agar dijaga, dipelihara, dimanfaatkan dan dimakmurkan. Oleh karena itu manusia disebut khalifah (penguasa, pimpinan) di muka bumi.
Tidak lupa pula Allah memberi begitu banyak kesempurnaan kepada kita. Kita adalah makhluk yang bentuknya paling baik ( QS. At-Tin : 4 ). Karena kesempurnaan manusia maka Allah memuliakan manusia berupa amanah untuk memimpin dan mengelola bumi, diberi kebebasan memilih antara yang baik atau yang buruk ( QS. Al-Balad :10 ) serta diminta untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita kelak ( QS. Al-Isra : 36 ). Jadi, walaupun kita mendapat gelar “ yang terbaik”, kita tidak boleh melakukan sesuka hati. Akan tetapi, sebenarnya kita mempunyai banyak tugas.[1]
Tugas tersebut maksudnya tidak lain agar kita menjadi lebih baik sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah dan sudah tentu pula kepada seluruh manusia di alam ini.
Tugas kita sebagai manusia yang terbaik di muka bumi adalah yang pertama,jangan keruhkan hati[2] yang artinya sucikanlah hati menuju Allah dari segala perkara yang menodai dan mengeruhkannya.
Kedua, beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah dalam setiap napas kita.Di samping ibadah khusus, semua tindakan diusahakan menjadi ibadah. Seperti belajar, makan, membaca, bergaul sampai tidur pun ibadah.( QS. Adz-Dzariyat : 56 dan QS. Al-Baqarah : 177 ). Termasuk juga disini  mengolah bumi dan seisinya dengan baik.
Ketiga, mengajak orang lain untuk berbuat baik. Setelah kita mengetahui hakikat manusia sebagai yang terbaik. Maka untuk lebih meramaikan alam ini, tentu kita harus mengajak teman-teman, saudara dan semua yang kita kenal atau yang tidak kenal sekalipun untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jelek ( QS. Ali-Imran : 110 )
Keempat, bersyukur atas semua kesempurnaan dan kelebihan yang Allah berikan. Jangan mengeluh. Lebih baik kita berbagi kepada yang belum tahu atau tidak seberuntung kita, misalnya mengajari teman kita yang tidak bisa ekonomi, sementara kita adalah ahli ekonomi dikalangan teman-teman kita.[3]
Kelima, meningkatkan potensi positif. Dengan menggali potendi diri yang positif dan mengurangi sedikit-sedikit hal yang buruk. Maka kita tidak akan menjadi orang yang suka mengeluh karena kita sudah mendapatkan gelar yang terbaik.
Keenam, berani tampil beda, tantangan, pendapat dan mandiri. Berani tampil beda dalam hal yang positif. Sekarang zamannya orang memakai baju ketat bagi perempuan tapi bagi akhwat kita bisa dan harus tampil berani dengan berjilbab atau berani menghadapi tantangan untuk memimpin suatu acara besar periode ini, yang terpenting adalah dimana pun posisi kita, kita sebagai pemuda bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jika itu bertentangan dengan syariat Islam, maka kita bisa menolaknya dengan pendapat kita yang sesuai tanpa menyinggung perasaan orang lain.
Jadi, untuk menjadi pemuda yang terbaik  di antara yang diimpikan salah satu caranya adalah selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada kita. Dengan bersyukur, kita akan merasakan betapa dekatnya Allah kepada kita dan kita akan merasakan menjadi pemuda juara yang menyejukkan jiwa.[4] Rasa syukur tersebut akan menyebabkan kita selalu tenang dan bahagia, baik dalam hati ataupun nampak dari gerak-gerik kita. Sehingga membuat kita termotivasi untuk ingin menguasai iptek dan ilmu keislaman.






[1] Ifa Avianty, 2007, Be a Happy Teenager 2, Zikrul Remaja, hlm. 47.
[2] Shalahuddin ‘Ali ‘Abdul Maujud, 2008, Jangan Keruhkan Hati, Mirqat, hlm. 1.
[3] Rusdin S. Rauf, 2008, Smart Salat for Teens, Hamdalah, hlm. 156.
[4] Ahmad Zairofi AM, Tarbawi, 5 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar