Sabtu, 28 Januari 2012

Pandangan Mata


Sudahkah saya menjaga pandangan mata dari perkara-perkara yang Allah haramkan? Sejauh manakah pengkhianatan pandangan mata saya dari perhitungan Allah? Dan sejauh manakah kesungguhan saya memelihara pandangan mata dari gelapnya ala jahiliyah ini?

Firman Allah Swt yang artinya :
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS.An-nuur:30-31)

Rasulullah Saw. Bersabda:
“Pandangan itu adalah anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Siapa saja yang menghindarinya karena takut kepada Allah, ia akan dikaruniai oleh Allah keimanan yang terasa manis di dalamnya hatinya.” (HR. Hakim)

Semoga dari firman Allah dan hadits dari Rasulullah tadi, kita dapat semakin menjaga pandangan karena Allah. Amiiin….. :)

Menutup aurat


Menutup Aurat
Sudahkan saya menutup Aurat sebagai tanda panggilan bagi orang-orang beriman? Pernahkah saya memperolok-olok orang Mukmin yang menutup auratnya? Pernahkah saya berdebat dengan seseorang karena mempermasalahkan perintah Allah akan kewajiban menutup aurat? Adakah saya merasa rendah diri karena menutup aurat? Ataukah saya bangga mengenakan pakaian-pakaian telanjang orang-orang kafir?

Yuk kita renungi maksud firman Allah ini: 
59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Al-ahzab:59)

[1232] Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Rasulullah Saw. Bersabda:

“Siapa saja dari seorang perempuan yang melepaskan (membuka) pakaian selain di rumahnya (di luar rumah), maka Allah pasti merobek tirai kehormatan daripadanya.” (HR. Ahmad, Thabrani dan Baza’ar dari Aisyah)

Mudah-mudahan niat kita menutup aurat adalah hanya diperuntukkan kepada Allah Swt. Jangan sampai kita salah niat dalam mengenakannya… ketika kita salah niat, mari kita koreksi lagi niat kita dan saling mengingatkan agar kita dapat bersama  fil jannah-Nya. Amiiiin… :)

Sabtu, 21 Januari 2012


Kepribadian Mukminat
Mukminat ??…..iya,teman-teman kita membahas tentang kepribadian mukminat…

Kenapa membahas ini ? karena kita, terutama bagi seorang perempuan perlu mengetahui hal ini dan menanyakan hal ini kepada diri dan hatinya.. 

Yuk kita mulai aja… :)

Benarkah saya seorang mukminat? Berjilbabkah saya? Apakah saya menundukkan pandangan mata bila berpapasan dengan laki-laki yang bukan muhrim? Apakah saya berjabat tangan dengan lelaki yang bukan muhrim? Apakah saya berparfum di luar rumah dengan berlebihan? Apakah saya berlebihan dalam berhias di luar rumah? Apakah saya bercampur baur dengan lelaki yang bukan muhrim? Apakah saya bepergian dengan muhrim? Apakah saya berpacaran? Adakah saya menyegerakan nikah? Dan sekarang benarkah saya seorang mukminat?

Rasulullah saw. Bersabda:
Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash ra. Berkata: Bersabda Rasulullah Saw.: “Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baiknya kesenangan dunia ialah wanita shalihah.” (HR. Muslim) 
Semoga kita termasuk yang bisa menjadi wanita shalihah :)
 
emm..Nanti kita akan membahas tentang menutup aurat...

Kamis, 19 Januari 2012

anak

Anak
Ehem…kenapa tentang anak sekarang pembahasannya ? Apakah saya sudah punya anak ?

Eits… ga ko… saya masih seorang mahasiswa yang belum menikah apalagi punya anak. J

Gini,,,maksud saya membahas ini karena kita, terutama saya sendiri adalah seorang anak yang masih haus dengan ilmu. Semoga ilmu kita penuh berkah dan kelak menjadi saksi ila yaumil qiyamah…. Amiiin J

Seperti biasa, pasti kita awali dengan pertanyaan yang menyentuh hati kita….

Sudahkah saya memenuhi kewajiban sebagai seorang anak ? Berbaktikah saya kepada kedua orangtua? Apakah tutur kata dan perbuatan saya menyenangkan hatinya? Senantiasakah saya mendoakannya? Senantiasakah saya berterimakasih kepadanya? Senantiasakah saya menjaga kehormatan dan hartanya? Pernahkah saya menyakiti hatinya? Atau adakah saya mentaatinya untuk mensyariatkan Allah dengan sesuatu? 

Allah Swt. Berfirman yang artinya :
dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. AL-lukman 14-15)

[1180] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.

Mudah-mudahan kita menjadi anak yang selalu berbakti kepada orangtua sesuai dengan syariat islam. Walaupun dulunya kita pernah berlaku salah kepada orangtua, tidak ada salahnya kita memperbaiki diri dan mau mendengarkan nasehat mereka. Serta kita berusaha menyenangkan hati mereka, karena ketika mereka senang dan ridha terhadap kita maka Allah pun ridha terhadap kita…. J

Semoga bermanfaat J

Oya nanti kita akan membahas tentang Kepribadian Mukminat

Mukmin Sejati

Saat aku memasuki perpustakaan yang kerap menjadi tempat akrabku. Aku menemukan sebuah buku yang berjudul “Benarkah Saya Mukmin Sejati”, Menarik ??? iya, makanya kucoba tuk membukanya dan membacanya… tak terasa sudah 40 halaman kulewati. Karena waktu itu mau ujian, maka kuputuskan untuk meminjamnya dan membacanya di rumah saja.

Baiklah teman-teman, aku akan menceritakan apa aja isi buku yang berjudul “ Benarkah saya mukmin sejati” dan ditulis oleh Abdurrahman Al-Mukaffi. Disini nanti kita akan mengajak diri kita sendiri untuk mengoreksi diri atau yang disebut muraqabah dengan pertanyaan-pertanyaan kecil tapi punya efek yang besar .Terkadang kita, terutama diri saya sendiri lupa dengan  hal-hal tersebut.

Yuk kita ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk diri kita sendiri dan hati kita…. J

Mukmin sejatikah saya ?

Apakah saya beriman kepada agama Allah? Mana buktinya? Apakah saya melaksanakan seluruh panggilan Allah yang diawali dengan : “Ya ayyuhallaziina amanu?” Apakah saya menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar? Apakah ibadah yang saya lakukan ikhlas karena Allah? Apakah saya mengutamakan kepentingan agama Allah? Apakah saya mentaati ulil amri yang mentaati Allah dan Rasul-Nya?  Apakah saya berhukum dengan Al-Qur’an? Adakah upaya saya hingga islam mewarisi bumi? Apakah saya istiqamah dalam berjihad dengan harta dan jiwa saya di jalan Allah? Apakah saya takut miskin menginfakkan harta saya di jalan Allah? Apakah saya takut mati dalam  membela agama Allah? Apakah saya lindung-melindungi sesama mukmin? Apakah saya memerangi orang-orang kafir dan munafik? Apakah saya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang sesama mukmin? Apakah saya teliti terhadap berita yang datang dari orang fasik? Apakah saya sabar menghadapi berbagai cobaan? Adakah saya memperolok-olok agama Allah? Adakah saya menyombongkan diri di hadapan Allah? Adakah saya menukar iman dengan kekafiran? Adakah saya mengambil teman kepercayaan orang-orang yang memusuhi agama Allah? Adakah saya mengikuti seruan orang-orang yang memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan materi dan kejahiliyahan? Apakah saya menyegerakan taubat dari kejahiliyahan? Apakah saya memenuhi janji-janji saya? Apakah saya penegak keadilan sekalipun terhadap diri dan keluarga saya? Apakah saya mensyukuri ni’mat yang Allah berikan? Dan sekarang terbuktikah iman saya?

Yuk kita renungi firman Allah ini yang artinya :orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS.Al-an’am:82)

Rasulullah Saw. Pun bersabda :
Dari Abdullah bin Umar ra., katanya : “Tatkala turun ayat yang berbunyi: Mereka yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan akan dipimpin (Allah)”. Bertanya para sahabat Rasulullah Saw.: Siapakah diantara kami yang tidak zalim terhadap dirinya sendiri?” Maka diturunkan Allah ayat: “Sesungguhnya syirik (mempersekutukan Allah) adalah kezaliman yang amat besar.” (HR. Bukhari)

Semoga bermanfaat…. :) 
Oya….untuk pembahasan selanjutnya kita adalah tentang Anak