Pagi senin (07/04/14) yang cerah ini, saya tertarik untuk ngomongin alam sekitar. Khususnya pada bagian sumber daya alam yaitu pertanian dan perkebunan yang ada di Indonesia ini. Menurut
Kusumuprojo (2009, hlm. 7) menyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara
agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sektor
agribisnis terdiri dari tanaman bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan
dan perikanan. Berdasarkan sektor-sektor tersebut, sektor perkebunan memiliki
potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Yakin besar?
Yup kawans, udah dibuktikan kok... Dengan perkembangan distribusi Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari sektor perkebunan pada tahun 2012 sebesar
1,94%, kemudian meningkat pada tahun 2013 menjadi 2,11 %. Persentase distribusi
PDB pada tahun 2013 tersebut mewakili angka 76 897.20 milyar
rupiah. (BPS, 2013). Sudah yakinkan bro and sis? ^_^
Namun, sayang sumber daya alam ini hanya data perkembangan saja. Padahal riilnya belum mensejahterakan para petani Indonesia, kenapa? Sebab, kalau di negara Barat para petani adalah profesi yang memiliki pendapatan paling kaya.. lain halnya di Indonesia.
Yuk, kalo coba kita tenguk dengan petani dan nelayan di Jepang yang memiliki alat pertanian modern. Bayangiin!! Harga jual beras petani di Jepang bisa buat sang petani menabung bahkan liburan ke luar negeri. Adapula nelayan di Amerika yang cuma menangkap kepiting saja selama satu minggu paling rendah saja bisa mengantongi uang sebesar 3.000 USD. Subhanallah...
Trus adalagi, nelayan negeri jiran (Malaysia) juga sudah meniru nelayan Jepang yang menggunakan GPS dalam menentukan arah pelayaran dan mencari ikan kawasan laut yang banyak ikannya. Tatkala nelayan kita 'menggantung jaring' karena takut ombak besar, nelayan Jepang dan Malaysia malah menyambangi ZEE negara kita dengan tenangnya.
Trus adalagi, nelayan negeri jiran (Malaysia) juga sudah meniru nelayan Jepang yang menggunakan GPS dalam menentukan arah pelayaran dan mencari ikan kawasan laut yang banyak ikannya. Tatkala nelayan kita 'menggantung jaring' karena takut ombak besar, nelayan Jepang dan Malaysia malah menyambangi ZEE negara kita dengan tenangnya.
Hemmm...sebenarnya apa yang salah dan kurang tepat dalam menanggulangi permasalahan petani, nelayan dan lainnya di Indonesia? *Teman-teman bisa jawab sendirilah, kan udah sekolah... ^_^
Sebenarnya para petani dan nelayan Indonesia hebat loh, masih bertahan untuk melestarikan tanaman budaya Indonesia. Padahal kalau mau egois, ya bisa saja petani dan nelayan mogok untuk menanam dan berlayar. Misalnya hanya menanam dan mencari hasil laut apa saja yang dibutuhkan mereka saja.. Alhamdulillah hal tersebut tidak terjadi. Seharusnya mereka dapat pensiunan tuh dari pemerintah, trus asuransi buat petani jika tanamannya rusak dan bagi nelayan dapat asuransi bila perahu atau alat lainnya rusak. Kan mereka juga berjuang untuk kesejahteraan Indonesia. Mereka bukan beban negara, tapi investasi bagi negara..
Maka dari itu bro/sis, kita harus milih pemimpin yang benar-benar konsen dalam peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan SDM. Bukan mereka yang menjanjikan beras bisa murah, satu rumah dapat bantuan sekian, namun yang perlu dikritisi adalah manakah pemimpin yang mau menggalakkan segala tenaga dan upaya untuk mensejahterakan petani, nelayan, memberikan pendidikan yang tuntas, ningkatin peluang kerja buat kaum muda-mudi untuk berkreasi. Smga calon pemimpin tidak merasa terbebani dengan permasalahan ini, namun semakin yakin bisa menjalani dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Innallaha Ma'ana
Sumber:
Kusumoprojo, Wahyono Suroto. (2007). Indonesia Negara Maritim. Jakarta: Mizan.
Sumber:
Kusumoprojo, Wahyono Suroto. (2007). Indonesia Negara Maritim. Jakarta: Mizan.
Badan Pusat Statistik. (2013). PDB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2013. BPS : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar