Minggu, 15 Juni 2014

Hidup = Akuntansi & Cinta



Banyak orang tidak terlalui menyukai akuntansi, kenapa? karena banyak menghitung, susah dipahami dan ribet. Lain halnya dengan pembahasan cinta, bisa dibilang tidak ada habis-habisnya. Saya juga tidak terlalu suka dengan akuntansi, tapi saya sadar dalam akuntansi terdapat hitung-hitungan yang sebenarnya mengajarkan kita pentingnya hidup yang seimbang. Contoh mudahnya seperti ini, apabila kita mempunyai pendapatan tiga juta pasti kita tidak mau kan pengeluaran kita melebihi tiga juta. Hem kecuali kita mau berhutang, hal ini beda lagi kan sumber uangnya darimana. Iya gak? ^_^
Hal ini selaras dengan pepatah yang menyatakan jangan lebih besar pasak daripada tiang. Haha gak muat nanti. Selain selaras dengan pepatah yang barusan saya sebut, tanpa dipungkiri akuntansi itu sebenarnya mengajarkan kita cinta. Cinta yang seperti apa? Cinta yang seimbang, maksudnya adalah ketika ada salah satu di antara pasangan yang sedih bergulana, maka pasangan yang lain harus siap siaga tuh untuk menghibur dan menasehati agar tetap sabar. Pada saat salah satu pasangan sedang berbahagia, maka di sisi lain pasangannya harus selalu mengingatkan untuk bersyukur atas nikmat yang diperoleh. Nah, masih ngaku susah dengan akuntansi?
Kembali kepada pembahasan awal, ketika pengeluaran kamu tidak sesuai dengan pendapatan. Maka kamu pasti bingung dan gigit jari bukan makan jari yaa, haha. Sehingga solusi yang kamu pilih salah satu diantaranya puasa, menghemat uang atau berhutang kepada orang lain. Nah, dalam masalah cinta. Ketika kita merasa begitu banyak perhatian yang diberikan namun pasangan kita tidak memberikannya, maka hal yang mungkin kita lakukan bisa jadi kita menegur atau menanyakan sikapnya, tidak menyapa dia atau bahkan kita akan berpaling darinya. Untuk pelampiasan atau buat cemburu si doi terserah kalian kawans.
So, hidup itu harus seimbang. Jangan salahkan yang ada di samping kita, namun salahkan diri sendiri karena baru sadaaar yang berbuat salah siapa. Kenapa harus menyalahkan orang lain?..haha :D
Hidup itu adalah seimbang, Allah SWT pun telah mengajarkan kita bahwa dalam kehidupan harus seimbang. Contoh konkritnya nih, kalau kita lapar pasti makan kan? Tapi kalau makannya berlebihan, nanti perutmu yang langsing akan membesar sehingga bergerak pun susah, apalagi berjalan. Haha…Kebayangkan? Inilah nikmat dari Tuhan untuk seluruh makhluk agar hidup dengan seimbang alias hidup dengan akuntansi dan cinta.

Rabu, 11 Juni 2014

Persiapan Pulang!

Hari ini sekalian nunggu dosen penguji untuk menandatangani skripsiku. Tadi baru minta tandatangan dari Kaprodi Akuntansi Syariah dan WK1. bagian Akademik. Haha...sembari nunggu, jadi bagian akademik dulu. Tik....Tuk...Tik...Tuk...
Ternyata Khoirunnisa masuk, trus makan gado-gado lagi. Duuuhh, jadi sedikit ngiler. Trus tadi ada Ii minta periksain latar belakang, sumpah cuma 2 lembar doang dia bikin. Perasaan cuma dikit yang ngena, hari ini kenapa yaa kok banyak nemuin yang aneh, untungnya cuma dikit. Jadi, aku masih bisa normal hari ini.
Siap-siap menyambut ketua dosen penguji nih. Selanjutnya, mengunjungi dosen pembimbing 1 hari sabtu sepertinya harus ke tempat beliau dan hadir di acara MTGW terakhir pada bulan ini.
Hari senin siap-siap pulaaang... Alhamdulillah

Minggu, 01 Juni 2014

Semaikan Kebaikan di Bulan Sya'ban

Bulan sya'ban telah tiba, ini menandakan sebulan lagi Ramdhan akan tiba. Yuk, kita persiapkan hati dan fisik kita untuk menjadi insan yang lebih baik. Kenapa? Ya kalau siap maka kita bakal tenang menjalankan ibadah puasa. Kalau urusan hati, misalnya suka jengkel. Hem berarti kita harus belajar dari sekarang selalu bersyukur dengan apa yang diperoleh. Dijamin insya Allah kalau tenang gak cepet ubanan kalau kata temenku.
Mumpung jelang Ramadhan juga yang sekaligus moment kita memilih kepala Negara Indonesia. Semoga kita dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana, tegas, cerdas dan shaleh. Aamiin. 
Dan tentunya demi menuju Negara yang diakui dunia, bukan berarti hanya pemimpinnya yang baik. Namun yang dipimpin juga harus mulai berpikir keras agar tidak hanya selamat di dunia yang mewah ini, tapi juga bahagia di tempat yang lebih modern yaitu akhirat.
Kau dan aku adalah sama, hanya seorang manusia. Jika tak bersama maka bukan makhluk sosial, bukan manusia yang berguna. Maka dari itu, saya di sini mencoba mengajak sahabatku agar kita sama-sama sadar bahwa betapa banyak waktu yang telah terlewatkan dengan sia-sia. Mari kita semaikan lagi semangat 45 mengharumkan Indonesia dengan tulisan, tingkatkan kepedulian kita kepada sesama tanpa pandang sara di bulan Sya'ban ini. Ku yakin, banyak hal di luar sana yang belum kita sentuh, kita perhatikan, dan kita rangkul untuk menyadari bahwa hidup hanya sementara.
Semangat 45 bulan Sya'ban