Hari ini saya tertarik membahas terkait
pentingnya memanajemen fungsi hati. Asyiiik bahasanya. Dalam kehidupan
sehari-hari tentu kita menemui beragam masalah dari perkara yang kecil hingga
yang besar. Bahkan adapula yang membuat kita seolah-olah ragu untuk bertindak
ataupun menyelesaikan perkara tersebut baik yang benar maupun yang salah.
Perkara yang mengandung kebaikan lebih menenangkan jiwa, namun perkara
keburukan lebih condong meresahkan dan pelaku tidak mau orang lain tau hal
tersebut.
Nah di sinilah saatnya kita membuka mata hati
kita bahwa segala permasalahan yang dijalani pasti ada jalan keluarnya. Namun
menyikapi hal ini tidak bisa dengan keadaan emosi, kalau dengan emosi atau
pemikiran pendek maka perkara buruk yang lain akan bermunculan. So, tetap
tenang.
Untuk waktu yang tepat agar kita bisa membuka
mata hati kita adalah bisa dengan shalat yang khusyu, muhasabah, saat mendapat
ujian dsbnya ya kawan. Pertama, pada waktu shalat yang khusyu disyaratkan hatinya
yang hadir dan siap untuk menyembah Allah SWT bukan karena tempatnya yang
lapang, bersih maupun tak banyak orang. Sehingga di moment inilah yang tepat
untuk membuka hati kita apakah yang kita lakukan benar atau salah. Kedua adalah
bermuhasabah, hal ini dapat dilakukan pada waktu malam hari tepatnya setelah
shalat tahajud sebab lebih sepi, namun beda yah kawan suasananya saat malam
Ramadhan karena malam tersebut orang-orang lebih banyak yang bergadang jadi
sedikit susah untuk menyepi. Selanjutnya pada waktu mendapatkan ujian, kita
bakal mudah untuk mengingat kembali kenapa kita mengalami hal ini sehingga
lebih cepat sadar dibanding saat kita memperoleh nikmat. Kenapa saat nikmat
datang mata hati kita tidak terbuka? Sebab ketika memperoleh nikmat kita
terkadang lupa, lalai bahkan takabur. Astaghfirullahhal adzhim..
Oleh karena itu kawan, kita tidak ada salahnya
untuk membenarkan niat kita setiap waktu sehingga langkah kaki kita lebih mudah
berbuat kebaikan. Mintalah fatwa kepada hati kita sendiri di saat kita ragu,
walaupun di luar sana banyak fatwa yang membolehkan. Semuanya kembali ke hati,
jika kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk maka hati kita telah
ternoda dengan perbuatan buruk sebelumnya. Akan tetapi jika kita mudah
membedakannya, maka kebaikan akan selalu hadir pada diri kita sehingga akhlak
yang karimah terjadi secara otomatis. Yuk
kita berbenah diri dengan memperbaiki niat dan selalu berdiskusi dulu dengan
yang paling dekat yaitu hati kita, karena hati kita lebih condong kepada
kebaikan dan taqwa kepada Illahi Rabbi..



