Malam menjelma menjadi rumah sepi bagiku di saat kurasa tak sanggup lagi menghadapi masalah bertubi. Saat shalat, aku hanya bisa menangis lirih tanpa suara. Doaku hanya satu, membahagiakan orangtua. Memang tak bisa instan untuk mendapatkannya. Misalnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dan dari sana bisa memberangkatkan ortuku ke Mekkah. Kemudian, ingin sekali memberikan cucu kepada orangtua. Namun, ikhwannya belum ada.
Masalah ini, sebenarnya sangat risih ditulis di sini tapi semoga menjadi penerang bagi pembaca (terutama aku, penulisnya). Dulu aku pernah menyukai seseorang dan sempat diuruskan oleh kaka murabbi. Sayangnya, belum ada sinyal kesiapan pada ikhwan tersebut. Masih belum percaya. Hingga akhirnya aku putuskan mengirim surat terkait keseriusan pribadi kepadanya, ternyata kesiapannya masih diragukan. Ini terjadi 8 bulan yang lalu.
Setelah 2 bulan dari kejadian sebelumnya, datanglah proposal taaruf dan pada nyatanya kami belum berjodoh. Hingga saat ini, aku belum bisa menemukan sosok yang diinginkan, pun ada tentu secara lahir tak mampu.
Inilah salah satu permasalahan yg sering kuselipkan dalam doa hingga membuatku tak sadar bahwa telah menangis. Pikir positifku berkata, ini kesempatan agar lebih membantu ortu. Bisa saja kelak tak bisa membantu setelah menikah disebabkan waktu maupun jarak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar