Puisi untukmu, suamiku
Majnun memang..
Melihat cara kau memakai tas hitammu
Berbicara dengan meraih coklat kecil
Agar terlihat santai di mata mereka
Tulisan "sukses" untukku bertintakan merah
Tak kan ku lupa
Saat ku terbaring sakit
Kau..
Tak hadir walau hanya menyapa
Mungkinkah rasa ini hanya bertepuk sebelah tangan
Atau belum saatnya bernaung dalam ikatan?
Wahai pujangga untukku
Mengertilah, ku takkan mau keliru
Bahkan meninggalkanmu dalam kepayahan
Aku ingin mengabdi, sebagai penenang jiwamu
Semoga Allah mengizinkan hal itu
Seberapa kuat aku melupakanmu
Maka semakin kuat pula Allah meyakinkanku bahwa
Engkaulah yang terbaik untuk saat ini dan kelak
Ya, kelak kaulah pembimbingku
Penasehatku, dan tentunya imamku
Kini, ku hanya biaa bersimpuh di sujud malam
Bukan untuk kuantitas sujudku
Tapi keridhaanNya yang diharap
Kadang teringat,
"Belum tentu dikira baik, tentunya baik. Namun doa dan tawakal lah yang patut dirutinkan"
Sehingga, jika kau membaca ini
Dan berharap kesempatan untukmu
Namun aku telah dipinang maka..
Pilihlah sesuai rencana masa depanmu
Melepaskanku atau mengikatku...
Jika kau lepas, aku pun ridha
Jika mengikatku, aku sangat bahagia bisa bersamamu..
(Meneteskan airmata, malam selasa)
Ya, mungkin aku majnun