Rabu, 18 Juli 2018

Solusi Terbaik Membina Anak Menjadi Shaleh

Ketika di grup Legend Kots bahas reunian, khususnya yang masih dalam area Jabodetabek tetiba muncul artikel yang panjang banget. Menurutku biasa aja, ternyata hari ini saya mencoba membaca artikel tentang penghentian siklus anak nakal menjadi anak yang shaleh dan shalehah, disini pembahasannya sangat ringan sehingga saya pun merasamerasa beruntung memperoleh artikel ini. Tidak berpanjang lebar, yuk simak...

Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka ob  rolan dengan satu kalimat tanya:

"Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?"
Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.
"Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih", pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.

Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:

*رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد*ِ
_*“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”*_

Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga.

Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.

"Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola", tantang mas Dodik ke saya.
Waaah pak Dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.

Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc. di sana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.

Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2)

Siklus Anak Baik ( siklus 1)
_*Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik*_

Siklus Anak nakal ( siklus 2)
_*Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal*_

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ? ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> *ORANGTUA RIDHO* ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.

Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?
ini kuncinya:
*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“*

Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).

Caranya orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:

Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.
*Umar Bin Khattab*

 saya dapat do'a seperti ini, artinya:

"Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku ridho kepada anakku (dg menyebutkan nama anak) dg ridho yang paripurna, ridho yg sempurna dan ridho yg paling komplit. Maka turunkanlah ya Allah keridhoan-Mu kepadanya demi ridhoku kepadanya."

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.

Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil

Semoga bermanfa'at
Barakallahu fiikum...
silahkan share jika bermanfaat...

Tulisan ini ditulis oleh ibu septi peni wulandani founder institut ibu profesional, istri dari bapak Dodik Mariyanto 

Dan versi lengkapnya bisa dicek ke web komunitas https://www.ibuprofesional.com

Demikian artikel terkait mengatasi anak nakal. Semoga bermanfaat. Aamiin 😊🌹

Senin, 16 Juli 2018

Mengatasi Anak Yang Tidak Suka Belajar

Terkadang kita sudah menyerah menghadapi anak yang super aktif tanpa mengasah kelebihan anak kita. Namun setelah membaca artikel ini saya merasa terharu dan tertarik berbagi kepada teman-teman semua bahwa anak kita penuh talenta. Berikut adalah artikel yang berjudul Belajar dari 'Anak Nakal' Bernama Zohril yang ditulis oleh : Mohammad Azhar *

Pencapaian gemilang Lalu Muhammad Zohri di nomor 100 meter, Kejuaraan Dunia Lari U20 di Finlandia mengingatkan kita tentang beberapa hal penting yang mungkin perlu kita luruskan kembali. Tentang sekolah dan pengajaran.

Salah satu fakta menarik yang saya catat dari Zohri adalah orang bisa dengan mudah terkecoh menafsirkan talenta seperti Zohri, sebagai anak nakal di sekolah.

Padahal, remaja seperti Zohri tidaklah nakal. Ia hanya tidak dilahirkan ke dunia untuk duduk lama di ruang kelas, sambil menyimak guru mengajar. Sudah terlalu lama sistim pengajaran yang kita terapkan di sekolah, justru menjadi semacam penjara bagi talenta-talenta yang tidak biasa.

Bagaimana mungkin, seseorang bisa duduk tenang di sekolah sementara di bawah sana, dua kakinya selalu berontak ingin berlari? Atau tangannya selalu ingin menggambar hingga buku tulis pelajaran penuh dengan coretan

Maka wajar jika Zohri sering bolos sekolah. Wajar pula jika nilai pelajarannya nol, seperti kata salah seorang rekan sekolahnya. Yang tidak wajar adalah, jika guru-guru sekolahnya menyerah menghadapi anak-anak seperti Zohri. Memvonisnya sebagai anak yang malas sekolah, supaya tidak repot mencari asal muasal kemalasannya.

Melihat fenomena yang demikian, kita memaklumi jika beberapa hari lalu Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani sempat misuh-misuh melihat kinerja oknum guru yang sudah disejahterakan negara, tapi masih buruk kinerja mendidiknya.

Tapi, untungnya tidak semua guru demikian. Masih ada guru-guru seperti Ibu Rosidah, guru olahraga Zohri yang jeli melihat sisi lain kepribadiannya tersebut.

Oleh Ibu Rosidah, Zohri untuk pertama kalinya dipertemukan dengan dunianya. Ia dilatih dua pekan untuk mengikuti Kejurda atletik Remaja di Mataram tahun 2015. Dan benar saja, kalau kamu melatih citah berlari, ia akan segera mengantongi prestasi demi prestasi. Di debutnya itu, Zohri langsung memborong dua emas di nomor 100 meter dan 200 meter.

Zohri menjadi semacam eksperimentasi sukses tentang mengelola anak yang bermasalah dengan prestasi akademis. Mulai hari ini, para guru di sekolah yang menangani remaja nakal perlu mengeluarkan lebih banyak energi untuk mengetahui problematika individual anak didik.

Fenomena anak bolos sekolah, kini tidak boleh lagi ditafsirkan dalam batasan hitam putih. Sebab, pemicu bolos tidak selalu hitam putih. Ia bersifat kompleks. Bolos tidak selalu berarti nakal. Nilai jelek juga, tidak berarti anak itu pemalas. Karena bisa jadi nilai jelek ada disebabkan metode pengajaran guru yang masih lama.

Bolos bisa saja merepresentasikan teknik pemberontakan terselubung dari naluri dasar seorang peserta didik. Bolos ditempuh sebagai pelarian, karena sang anak gagal membaur dengan topik-topik yang memang tidak disenanginya. Tidak semua orang menyukai biologi, matematika, fisika atau kimia. 

Waktu SMA, saya punya beberapa teman yang hobi musik. Ketika bersama gitar,.atau habsyi mereka bisa berubah menjadi disiplin latihan, tekun belajar sekaligus kreatif mencipta. Tapi sekolah memaksa anak-anak dengan kecenderungan seperti ini menghabiskan banyak waktunya untuk belajar hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan.

Bagaimana mungkin seorang anak bisa bagus nilai biologinya, sementara di dalam kepalanya selalu terdengar lengkingan gitar Steve Vai?

Oya, sebagian kawan saya juga sangat menyukai sepak bola. Tapi, sistem pendidikan kita, memaksa mereka untuk menghabiskan berjam-jam dari masa produktif mereka untuk menekuni literatur-literatur yang jauh dari sepak bola.

Lalu, ketika Timnas U-19 Indonesia kemarin takluk dari Malaysia, kita kembali mengajukan pertanyaan klasik. Kenapa sih, dari 261 juta rakyat Indonesia, kita masih kesulitan mencari 11 pemain bola yang hebat?

Saya kira, salah satu jawabannya, karena tidak semua anak Indonesia yang berbakat main bola, berhasil menemukan sepak bola. Seperti halnya Zohri menemukan lari. (*)

* Warga NTB

#lalumuhammadzohri
#timnas
#sekolah

Semoga bermanfaat dan menjadi pembelajaran untuk kita sebagai orangtua, guru atau siapapun yang sekarang lagi berkecimpung mendidik anak. Ada beberapa yang diedit untuk menyesuaikan pengalaman saya juga. Mudah-mudahan dengan ikhtiar mendidik anak lebih baik lagi kita akan menuai hasilnya kelak di dunia maupun di akhirat. Aamiin...

Kamis, 12 Juli 2018

Membina Akhlak Anak Sejak Dini

Menikah dan dikarunia seorang anak adalah sebuah anugerah. Ditambah dengan akhlaknya yang luar biasa ke ayah bundanya. Bukankah ini yang diidamkan, namun pernahkah terpikirkan bahwa bagaimana mendidik anak. Mulai dari mana ? Berikut saya lampirkan artikel yang menarik yaitu terkait membina akhlak sejak kecil salah satunya dengan membimbing cara makannya dst. Amazingnya, dari hal kecil tersebutlah seorang anak akan terlatih hingga menjadi kebiasaan. Silahkan ditelaah teman-teman 😊

Dari Kitab minhajul qashidin
Oleh : Ustadz Budi Ashari 

-  Anak dijaga, diajari adab jgn biasa hidup mewah walaupun orangtuanya mampu

-  Jangan ajarkan cinta kesejahteraan, ajarkan hidup prihatin, karena kalau cinta kesejahteraan kelak ketika dewasa hidupnya habis memikirkan kesejahteraan yang selama ini dia rasakan 

- Mengawasi betul diawal usianya jangan sampai memakai jasa susuan kecuali oleh wanita sholehah taat agama dan makan makanan halal, sebab air susu yang berasal dari makanan haram tidak mendatangkan berkah

- Jika anak sudah mulai memasuki masa puber dan sifat yang menonjol adalah malu, maka itu tanda kecerdasan, kabar gembira akan sempurnanya akal, karena menunjukan kedewasaan akalnya setelah baligh nanti. Dan malu harus terus dilatih

- Ajari malu dengan adabnya, malu dengan lawan jenis, malu sehingga mau menutup auratnya. 

-  Ajari adab makan, jangan sampai anak rakus makan, karena syahwat terbesar adalah syahwat perut, dari syahwat perut turun ke syahwat kemaluan, dan karena hal ini pula menyebabkan Adam terusir dari surga ( Syahwat makan), banyak timbul penyakit lain semua karena kenyang. Puasa mematahkan syahwat perut

- Jika mulai muncul rakus makan pada anak segera ajari adab makan, karena yang rakus dengan makan mirip binatang. 

- Ajari sekali kali anak makan tanpa lauk

- Melarang anak bergaul dengan anak yang terbiasa hidup mewah

- Sibukkan dengan quran, hadist dan sejarah agar tertanam kecintaan pada orang sholeh, jika anak suka dengan syeikh Masjidil haram misalnya itu baik pertanda pendidikan yang diberi bagus, sebaliknya jika diajari quran tp idolanya artis sinetron itu pasti ada yang salah. 

- Jika anak mempunyai akhlak baik puji, harus dimuliakan, anak jangan ditekan

- Puji anak dihadapan orang lain

- Tapi kalau sekali waktu dia melanggar jangan disampaikan pada orang lain, lupakan kesalahannya, tidak ada orang sempurna.. Ibu bapanya juga tidak sempurna, tidak ada manusia sempurna 

- Jika kesalahan diulangi maka tegur tp rahasia

- Jangan sering sering menegur anak (kuping jika sering ditegur akan kebal) 

- Jika teguran sering diucapkan maka hilang wibawa orangtua 

- Takut takuti dengan bapaknya

- Latih jalan, lari gerak olahraga 

- Ajari sholat, perintah sholat jika sudah usia 7 tahun termasuk ajari thoharoh

- Tidak buang ingus atau meludah sembarangan

- Melarang anak tidur siang karena menyebabkan malas, dan mengharuskan tidur malam

- Anak diajari sederhana dalam masalah tempat tidur, contoh rosulullah tidur diatas tikar, supaya tubuh tegap kokoh

- Anak diajari tidak membanggakan harta orangtuanya

- Tidak menumpankan kaki ke kaki satunya

- Anak dibiasakan berbicara hanya jika ditanya 

- Diperbolehkan main jika pulang sekolah, agar dia istirahat dari kelelahan belajar 

- Biasakan anak taat pada guru dan orangtua 

-  Ajari makan itu sama dengan obat, tujuan makan untuk menguatkan badan untuk ibadah. 

- Ajari anak untuk selalu mengingat Allah dimanapun berada
Seperti kisahnya Muhammad bin Siwar. Suatu hari pamannya berkata : " Tidakkah engkau mengingat Allah yang telah menciptakan dirimu? 

" Bagaimana aku mengingatNya? " aku balik bertanya 

" Katakan didalam hatimu tiga kali tanpa menggerakkan lidah, "Allah besertaku. Allah melihatku. Allah menyaksikanku" 

Jila malam hari aku mengucapkan didalam hati seperti itu, hingga dapat mengenalNya. 
Lalu paman berkata lagi kepadaku, " Ucapkan yang seperti itu setiap malam sebelas kali" 

Maka kulakukan itu, sehingga dalam hatiku ada sesuatu yang terasa nikmat. 
Setahun kemudian paman berkata lagi, " Jaga apa yang sudah aku ajarkan dan terus laksanakan hingga engkau masuk ke liang kubur. 

Maka saran itu terus aku lakukan hingga benar-benar merasakan kenikmatan didalam batinku. Kemudian Paman berkata," Wahai Sahl, siapa yang Allah besertanya melihat dan menyaksikan dirinya maka mana mungkin dia akan mendurhakaiNya. 

Setelah itu aku melanjutkan perjalanan kesekolah untuk menghapal quran. Saat itu usiaku baru enam atau tujuh tahun. Setelah itu aku banyak puasa, makan hanya dengan roti dan setiap malam mendirikan sholat.

Noviani, Senin 19 Juni 2017

Bukit Hambalang

#copas dari grup Walimurid SMPIT Al Khair

Semoga bermanfaat ya teman-teman khususnya untuk anak-anak kita 😊

Kamis, 05 Juli 2018

Pola Asuh Anak Peter Pan And Cinderella Syndrome

Teman-teman yang lagi single atau yang sudah berkeluarga, pernah gak kepikiran tentang pola asuh anak kita sudah benar atau belum ? Alhamdulillah kemarin saya dapat artikel yang bagus tentang Asuh Ala Peter Pan And Cinderella.  Yuk simak ini yaa..

Menghindari perceraian dini karena Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adversity Quotient Ditentukan Lewat Pola Asuh di Rumah....

Apa itu Peter pan dan Cinderella syndrome? Semua berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yg tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient (kemampuan untuk survive dalam menghadapi masalah kehidupan). Yg pada gilirannya akan mencetak laki2 dengan Peter Pan syndrome, yaitu yg tidak pernah dewasa. Atau anak perempuan dengan cinderella complex yg mengharap ‘prince charming’ datang utk menyelamatkan-nya, karena tak mampu menghadapi kesulitan hidup akibat terlalu dilindungi.

-Pernahkah anda menyuapkan makanan pada anak anda yg sudah SD karena kuatir dia sakit jika tidak makan ? 

- Atau pernahkah anda melihat anak SD berjalan melenggang sementara Ibu/pengasuhnya membawakan tas mereka.
- Atau jika anda ditelepon anak anda dari sekolah karena buku PRnya ketinggalan, apakah anda akan ter-gopoh2 datang ke sekolah utk mengantarkan-nya, alih2 menyuruhnya pulang atau membiarkannya disetrap karena kelalaian. 
- Apakah anda membuka satu per satu buku anak untuk mencari PRnya, kemudian mengoreksi PR dengan tangan anda bahkan menolong membuatkan supaya nilainya bagus. 
Jika ketiga hal di atas terjadi pada anda, maka waspadalah anda sedang menjerumuskan karakter diri anak anda. Kasih sayang yg anda berikan akan merusak kemampuannya untuk survive di masa depan.

Ciri2 anak dengan Peter Pan Syndrome adalah mereka terbiasa hidup nyaman tanpa beban tanggung jawab, tidak suka bekerja keras, kegiatannya banyak main2, tidak pernah punya tanggung jawab, tidak bisa mandiri/dewasa, tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko, kurang percaya diri, enggan hidup sendiri karena mengalami ketergantungan pada orang lain.

Pada anak-anak dengan pola asuh yg potensial menimbulkan Peter pan syndrome biasanya cenderung : Suka menentang, pemberontak, susah punya komitmen, pemarah (marah jika kemauannya tidak terpenuhi), tidak bisa menerima kritikan, mudah sakit hati, terlalu cinta pada diri sendiri, senang memanipulasi dan menolak hubungan dengan lawan jenis. Akibatnya mereka punya masalah tidak tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan, mereka tidak mampu berpikir tentang dirinya dan apalagi menangani problem yg menimpa. Karena sejak kecil semua masalahnya diatasi bunda, ayah atau pengasuhnya.

Cinderella komplex biasanya menimpa anak wanita yg selalu dilindungi atau yg hidupnya dalam keadaan tertekan. Ia mengharap ada figur yag dapat menyelamatkannya di setiap masalah yg dihadapi. Tanpa berusaha untuk berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan.

Dengan pola asuh salah orang tua potensial membentuk karakter laki2 dengan ciri Peter Pan akibat dimanja dan dibela setiap melakukan kesalahan, dilindungi dan dituruti keinginannya. Sementara anak perempuan dengan ciri Cinderella tidak dididik untuk menerima kenyataan hidup dan diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending tanpa tahu bahwa happy ending adalah reward dari a long and winding journey of struggling in life.

Kedua karakter ini di masa depan akan mengkontribusi dunia dengan generasi yg memiliki AQ (Adversity Quotient) yg sangat rendah. Apabila keduanya bertemu dan menikah besar kemungkinan perceraianlah yg terjadi atau never have happy ending.

Karena mereka tidak memiliki cukup AQ untuk mengupayakan kehidupan yg lebih baik. AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ ditentukan kadar kemampuan orang mengatasi kemelut tanpa menjadi putus asa.

Akhir2 ini, setelah gencar ESQ ditingkatkan, sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual. AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang2 yg secara karier dan materi sukses, tapi tidak dapat meraih kebahagian akibat rendahnya AQ. Terutama dalam membina hubungan dalam rumah tangga.

AQ adalah indikator untuk melihat :
1. Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tahu cara mengatasi situasi yg membuat penderitaan.
2. Keterampilan untuk menerima & menyelesaikan setiap tantangan.
3. Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience)

Perusahaan maju mulai melihat indikator di atas sebagai patokan dalam merekrut karyawan baru. Selain IQ, EQ dan ESQ.

Untuk memberikan gambaran AQ ini, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga jenis :

1. Quitter (Mudah menyerah). Para quitter adalah para pekerja yg sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan saat menerima tantangan.

2. Camper (Berkemah di tengah perjalanan). Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yg berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yg terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang2 ini se-kurang2nya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yg tidak teraktualisasikan, dan yg jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.

3. Climber (pendaki yg mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yg dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yg menghadang. Namun, dibalik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yg bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan2 tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Tetepi hasil terhebat akan diperoleh jika kita mampu menginstal AQ ini dalam diri putra-putri kita.

Untuk menghasilkan anak dengan ketangguhan seorang Climber yg memiliki AQ tinggi, kita harus memperhatikan 9 aspek perkembangan : Fisik dan kesehatan, daya tahan mental, kestabilan emosi, kemampuan sosial, keimanan dan ibadah kepada Tuhan, keterampilan dan seksualitas yg normal.

So, Smart Parents mau dibawa ke mana pola asuh yg anda terapkan di rumah sepenuhnya adalah hak anda. Tetapi untuk menjadikan anak yg tangguh perlu banyak belajar, usaha dan sabar. Sebelum bicara tentang AQ untuk anak kita, mari berkaca dan meyakini sudah sejauh mana kita sendiri mengembangkan AQ diri kita, dan berusaha meningkatkannya. Serta jangan lupa, dibalik keberhasilan atau belum kita mendidik anak tentu ada Yang Maha Pencipta yang berkehendak disana. Sehingga perlu juga kita mendoakan anak kita di sela-sela sujud terakhir kita.

Semoga bermanfaat. 
Be Positive and Get Smarter everyday !.....
♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻

Singellillah

Kini sudah menjelang beakhir bulan syawal tahun ini. Memang tidak sebanyak yang dulu pertanyaan "kapan menikah". Saya ingat dulu berniat menikah pada saat berumur 21 tahun. Sekarang saya sudah 25 tahun. Niat untuk menggenapkan diin itu masih ada. Tapi saya bercermin diri apakah saya cocok dengan ikhwan itu.h

Akhir-akhir ini saya kagum dengan seseorang imam di salah satu masjidil haram, beliau asli kalimantan. Hari ini dia sudah di Jakarta, begitu informasi yang beredar di medsos dan sebentar lagi mendarat di kampungnya Hulu Sungai ....

Maaf saya tidak sebut nama. Khawatir para fansnya marah kepada saya. Berharap bisa bertemu. Masalah berjodoh atau tidak, biarkan Allah yang berkehendak. Saya cuma menjalankan apa yang terbaik bagiNya dan mengurangi fitnah karena terlalu lama singel. Singellillah.. 😄

Singgelillah terinspirasi dari Ka Anandito Dwis


Selasa, 03 Juli 2018

Workshop Eduprenuer Untuk Pembelajaran Lebih Mudah

Pada hari sabtu-selasa, 30 Juni 2018 - 03 Juli 2018 diadakan Workshop Edupreneur di Aula Dinas Pendidikan Kab. Hulu Sungai Tengah. Bapak Taufik Rahman yang secara langsung mengkordinir acara tersebut. Tak lupa, pemateri kali ini adalah Bapak Niko Perdana Putra. Beliau selain aktif di kepemerintahan, juga aktif sebagai CEO kamikamu.


Selain itu, acara ini juga dibuka secara resmi oleh Ibu ..... selaku pengawas SD se-HST. Dalam sambutan, beliau berharap agar seluruh peserta nantinya bisa menghasilkan karya dan bisa mengoptimalkan pembelajaran namun menyenangkan.


Dalam acara ini membuat websiteblog dan aplikasi android berbasis HTML, membuat aplikasi edukasi android berbasis HTML5 dan membuat/ monetisasi video pembelajaran.



Alhamdulillah pada sore minggu saya sudah bisa buat aplikasi sendiri, karena penasaran sehingga rela sore-sore pulang. Walaupun terkendala software yang kurang mendukung, alhamdulillah bisa menggunakan laptop Pak Taufik.

Namun besok seninnya, alhamdulillah sudah bisa generate aplikasi sendiri setelah membuat dan mengatur blog. Bukan sekedar buat blog namun juga diajarin cara membuat aplikasi, dan isinya adalah blog kita. Senang banget :)

    

   

Semoga ke depannya bisa menghasilkan karya yang lebih bermanfaat lagi dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Aamiin....See you :)